SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menerapkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk membantu memantau kualitas air kolam pembibitan ikan nila di Sanjaya Aquatic, Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Teknologi tersebut memungkinkan pengelola memantau kondisi air pada dua kolam melalui telepon seluler secara lebih praktis, kontinu, dan terdokumentasi. Penerapan sistem dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, pemasangan perangkat, pengujian, hingga serah terima teknologi kepada mitra.
Program pengabdian ini dipimpin Dr. Ratnasari Nur Rohmah, S.T., M.T., dengan melibatkan Mohammad Nasrul Mubin, S.T., M.T.; Rizki Nurilyas Ahmad, S.T., M.T.; Ari Mukti Wibowo, S.T., M.T.; dan Dessy Ade Pratiwi, S.T., M.T.
Ratnasari mengatakan penerapan teknologi tidak hanya berorientasi pada pemasangan perangkat, tetapi juga memastikan mitra mampu mengoperasikan dan memanfaatkan sistem secara mandiri.
“Program ini tidak berhenti pada pemasangan alat. Tim juga memberikan pelatihan agar mitra memahami cara mengoperasikan perangkat, membaca data, dan melakukan pemeriksaan ketika sistem memberikan notifikasi,” jelas Ratnasari, Minggu (6/9/2026).
Sanjaya Aquatic merupakan usaha pembibitan ikan nila yang dikelola Muhammad Firdaus Adi Sanjaya di Manang, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Dalam proses pembibitan, kualitas air menjadi salah satu faktor penting karena perubahan suhu, tingkat keasaman atau pH, kekeruhan, dan ketinggian air dapat memengaruhi lingkungan pemeliharaan benih.
Sebelum penerapan teknologi, pemantauan kualitas air di lokasi masih dilakukan melalui pemeriksaan langsung. Pemantauan juga belum berlangsung secara kontinu dan belum menghasilkan dokumentasi data secara sistematis.
Pantau Dua Kolam Lewat Telegram
Menjawab kebutuhan tersebut, tim UMS mengembangkan sistem monitoring berbasis IoT dengan arsitektur multi-node. Sistem terdiri atas dua perangkat sensor dan satu perangkat pusat.
Setiap perangkat sensor ditempatkan pada satu kolam untuk mengukur sejumlah parameter, yakni suhu, pH, kekeruhan, dan ketinggian air. Data hasil pengukuran kemudian dikirim melalui protokol ESP-NOW menuju perangkat pusat.
“Data yang diterima selanjutnya diteruskan ke aplikasi Telegram sehingga pengelola dapat melihat kondisi dua kolam melalui telepon seluler tanpa harus selalu mendatangi setiap titik monitoring,” terang Ratnasari.
Menurut dia, penggunaan ESP-NOW memungkinkan perangkat sensor berkomunikasi secara lokal tanpa membutuhkan koneksi internet pada setiap kolam. Hanya perangkat pusat yang berfungsi sebagai penghubung menuju Telegram.
Sistem tersebut juga dilengkapi sejumlah fitur, antara lain pemeriksaan status perangkat, pengaturan batas peringatan, notifikasi otomatis, dan kalibrasi sensor.
Ketika nilai parameter melewati batas yang telah ditentukan, sistem akan memberikan notifikasi kepada pengelola. Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi pengelola untuk segera melakukan pemeriksaan kondisi kolam secara langsung.
Suhu Air Terdeteksi 26,6-27,6 Derajat Celsius
Sosialisasi dan pelatihan diikuti enam peserta. Materi yang diberikan mencakup pengenalan parameter kualitas air, cara mengakses data dua kolam melalui Telegram, pemeriksaan status perangkat, pemahaman notifikasi, hingga langkah pemeriksaan apabila ditemukan nilai yang tidak biasa.
Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa UMS, salah satunya Alya Putri Garpi Anggelina. Mahasiswa turut berperan dalam pengembangan, pengujian, pemasangan perangkat, pelatihan pengguna, dan dokumentasi kegiatan.
Setelah pelatihan, perangkat dipasang pada dua kolam pembibitan ikan nila. Tim kemudian melakukan pengujian untuk memastikan sensor, komunikasi antarnode, serta pengiriman informasi menuju Telegram berjalan dengan baik.
Hasil pengujian awal menunjukkan sistem mampu menampilkan data dari kedua titik pemantauan. Suhu air tercatat pada kisaran 26,6-27,6 derajat Celsius, sedangkan pH berada pada kisaran 6,93-7,03.
Sensor ketinggian air juga mampu mendeteksi perubahan level saat proses pengisian air berlangsung pada salah satu kolam.
Meski demikian, tim menekankan bahwa hasil pembacaan yang tidak biasa tetap perlu diverifikasi melalui pemeriksaan langsung. Kalibrasi sensor secara berkala juga diperlukan untuk menjaga keandalan sistem.
Pemilik Sanjaya Aquatic, Muhammad Firdaus Adi Sanjaya, menilai teknologi tersebut membantu pengelolaan dua kolam yang telah dipasangi perangkat.
“Sistem ini memudahkan kami melihat kondisi air pada dua kolam melalui Telegram. Informasi yang ditampilkan dapat membantu kami menentukan kapan kondisi kolam perlu diperiksa secara langsung,” ujarnya.
Sistem IoT tersebut digunakan sebagai alat bantu pengelolaan kolam, bukan untuk sepenuhnya menggantikan pemeriksaan lapangan. Pemeriksaan langsung tetap diperlukan, terutama ketika sistem menunjukkan perubahan nilai yang perlu dipastikan kondisinya.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (10/8/2026) itu merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan dan Penerapan Teknologi Tepat Guna (P2TTG) Tahun 2026 melalui Deputi Pengabdian Masyarakat dan Hilirisasi, Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi dan Sentra Kekayaan Intelektual (DRPPS) UMS.
Ratnasari berharap teknologi yang telah diserahterimakan dapat dioperasikan dan dirawat secara mandiri oleh mitra.
“Setelah perangkat diserahterimakan, mitra diharapkan dapat mengoperasikan dan merawat sistem secara mandiri, melakukan kalibrasi secara berkala, serta memanfaatkan informasi hasil monitoring sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan kolam,” pungkasnya.
Menurut dia, arsitektur multi-node yang diterapkan juga masih dapat dikembangkan untuk menjangkau lebih banyak kolam. Teknologi tersebut berpeluang direplikasi pada unit pembibitan ikan air tawar lain yang memiliki kebutuhan serupa. (*)
