YOGYAKARTA, MENARA62.COM
Arif Jamali Muis, Sekretaris PWM DIY
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan peradaban sering kali tidak bermula dari runtuhnya bangunan ekonomi, lemahnya teknologi, atau krisis politik semata. Kehancuran besar justru sering lahir dari sesuatu yang tampak kecil dan tersembunyi: hati manusia yang perlahan kehilangan arah moralnya. Ketika nurani mulai tumpul, rasa malu memudar, dan kebaikan tidak lagi menjadi ukuran hidup, pada saat itulah benih-benih kerusakan sesungguhnya mulai tumbuh.
Pesan itu tergambar sangat kuat dalam Surah An-Nahl ayat 90, ayat yang hampir selalu dibacakan di penghujung khutbah Jumat. Bagi sebagian orang, ayat ini mungkin terasa familiar karena terus diulang setiap pekan. Namun sesungguhnya ia bukan sekadar penutup khutbah, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana sebuah masyarakat dibangun sekaligus bagaimana sebuah bangsa perlahan dapat kehilangan peradabannya.
Allah memerintahkan tiga hal: berlaku adil, berbuat ihsan, dan memberi kepada kerabat. Sebaliknya, Allah melarang tiga hal: al-fahsya’, al-munkar, dan al-baghy. Menariknya, tiga larangan tersebut bukan sekadar daftar keburukan yang berdiri sendiri, tetapi seperti tahapan kerusakan yang bergerak perlahan dari dalam diri manusia menuju kehancuran sosial yang lebih luas.
Kerusakan itu dimulai dari fahsya’. Dalam banyak tafsir, fahsya’ dimaknai sebagai perbuatan keji yang melampaui batas moral. Namun maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar perilaku vulgar atau pelanggaran kesusilaan. Fahsya’ adalah ketika hawa nafsu tidak lagi dikendalikan oleh nurani dan nilai.
Ia tumbuh ketika manusia mulai kehilangan rasa malu. Ketika kerakusan dianggap kewajaran. Ketika kebohongan dipelihara demi keuntungan pribadi. Ketika manusia merasa bebas melakukan apa saja tanpa lagi mendengar suara hati.
Pada tahap ini, kerusakan memang tampak personal. Ia bekerja diam-diam di ruang batin manusia. Namun justru dari kerusakan batin yang kecil itulah kehancuran besar sering bermula. Sebab bangsa tidak runtuh pertama kali karena lemahnya ekonomi atau rendahnya teknologi, tetapi karena manusia perlahan kehilangan kompas moralnya.
Masalahnya, kerusakan hati tidak pernah berhenti pada diri sendiri. Ketika perilaku buruk terus dibiarkan, ia berubah menjadi kebiasaan sosial. Di situlah lahir munkar.
Munkar adalah segala sesuatu yang ditolak oleh akal sehat dan nilai kemanusiaan, tetapi justru dinormalisasi dalam kehidupan bersama. Korupsi dianggap lumrah. Manipulasi dipandang kecerdikan. Ujaran kebencian menjadi hiburan sehari-hari. Ketidakjujuran tidak lagi memalukan, bahkan kadang dirayakan.
Inilah fase yang paling mengkhawatirkan dalam kehidupan sosial: ketika masyarakat kehilangan sensitivitas moralnya. Orang tidak lagi merasa bersalah terhadap kemungkaran karena terlalu sering melihatnya.
Sejarah memperlihatkan bahwa banyak bangsa hancur bukan karena mereka miskin atau tidak maju, tetapi karena nilai-nilai moral mereka perlahan terkikis. Gedung boleh menjulang, teknologi boleh berkembang, ekonomi boleh tumbuh, tetapi ketika hati manusia kehilangan kejernihan, keruntuhan sesungguhnya sedang berjalan.
Dari sinilah lahir tahap terakhir: baghy. Kata ini berarti melampaui batas, menindas, dan menggunakan kekuatan secara zalim. Jika fahsya’ merusak hati manusia dan munkar merusak budaya sosial, maka baghy merusak struktur kehidupan.
Kekuasaan berubah menjadi alat penindasan. Hukum kehilangan rasa keadilan. Yang kuat menekan yang lemah. Pada titik ini, kerusakan tidak lagi bersifat pribadi, tetapi telah menjelma menjadi kerusakan sistemik yang melukai banyak orang.
Karena itu, Surah An-Nahl ayat 90 sesungguhnya bukan hanya ajaran spiritual individual. Ia adalah peta moral sebuah peradaban. Allah tidak hanya memperingatkan jalan kehancuran, tetapi sekaligus menunjukkan jalan pemulihan: adil, ihsan, dan kepedulian sosial.
Adil menjaga manusia dari kezaliman. Ihsan menumbuhkan kemuliaan akhlak. Sedangkan kepedulian kepada keluarga dan sesama menjaga kehangatan kemanusiaan agar tidak membeku oleh egoisme.
Di tengah dunia yang semakin bising hari ini, ayat ini mengingatkan bahwa masa depan bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, teknologi, atau politik, tetapi oleh kemampuan manusia menjaga hati dan nuraninya.
Sebab ketika hati rusak, sistem perlahan ikut rusak. Tetapi ketika hati tetap hidup oleh nilai dan kemanusiaan, harapan sebuah bangsa akan selalu menemukan jalannya.

