SURAKARTA, MENARA62.COM – Upaya pencegahan perundungan perlu dimulai sejak usia dini melalui pembelajaran yang ramah anak dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Berangkat dari kepedulian terhadap fenomena tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menyelenggarakan program penguatan karakter anti-perundungan berbasis digital storybook bagi guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Sukoharjo.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Guru PAUD di Kabupaten Sukoharjo melalui Penguatan Karakter Anti-Perundungan Berbasis Digital Storybook Bermuatan Emosi Dasar Anak” itu dilaksanakan pada Jumat (5/6) dengan melibatkan 80 guru yang tergabung dalam IGABA Sukoharjo dari 12 satuan PAUD di wilayah tersebut.
Kegiatan pengabdian ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya penguatan pendidikan karakter dan peningkatan kualitas pembelajaran pada jenjang PAUD.
Ketua tim PkM, Dr. Choiriyah Widyasari, M.Psi., mengungkapkan fenomena perundungan pada anak menjadi perhatian serius karena bibit perilakunya dapat muncul sejak usia dini. Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku seperti mengejek teman, merebut mainan, mengucilkan teman saat bermain, hingga menyakiti teman secara fisik maupun verbal sering kali dianggap sebagai hal biasa. Padahal, jika tidak dikenali dan diarahkan sejak dini, perilaku tersebut dapat berkembang menjadi pola interaksi sosial yang tidak sehat.
“Melalui kegiatan ini, para guru mendapatkan penguatan pemahaman mengenai pentingnya peran lembaga PAUD dalam mencegah perundungan sejak dini. Peserta diajak memahami berbagai bentuk perilaku perundungan yang kerap muncul pada anak usia dini serta strategi penanganannya melalui pendekatan pendidikan yang positif,” ungkapnya, Ahad (7/6/2026).
Selain itu, kegiatan juga menekankan pentingnya penguatan emosi dasar anak sebagai fondasi pembentukan karakter. Anak perlu dibantu mengenali berbagai emosi seperti senang, sedih, marah, takut, kecewa, dan malu agar mampu mengelola perasaannya secara tepat tanpa menyakiti orang lain.
“Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan penggunaan media buku cerita digital atau digital storybook yang dirancang untuk menanamkan nilai-nilai anti-perundungan. Media tersebut memuat cerita yang dekat dengan kehidupan anak serta mengangkat berbagai emosi dasar yang sering mereka alami dalam interaksi sehari-hari,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, para guru memperoleh pengalaman praktik langsung mengenai cara memanfaatkan digital storybook dalam pembelajaran. Mereka dilatih membuka diskusi, mengajukan pertanyaan reflektif, menggali perasaan anak, serta menghubungkan isi cerita dengan pengalaman yang terjadi di kelas maupun lingkungan bermain.
Dengan memanfaatkan cerita digital, anak diajak mengikuti alur cerita, mengenali karakter tokoh, memahami perasaan yang muncul, sekaligus mendiskusikan perilaku yang baik dan kurang baik dalam hubungan dengan teman sebaya. Pendekatan ini dinilai efektif karena sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini yang lebih mudah memahami pesan melalui visual dan narasi.
Choiriyah menegaskan bahwa penguatan karakter anti-perundungan harus dimulai sejak usia dini karena masa tersebut merupakan periode penting dalam pembentukan kebiasaan sosial dan pengelolaan emosi anak.
“Guru perlu memiliki strategi dan media yang tepat agar nilai empati, kasih sayang, dan saling menghargai dapat ditanamkan secara konkret dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari,” ujarnya.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan PAUD ramah anak di Kabupaten Sukoharjo. Konsep PAUD ramah anak tidak hanya berkaitan dengan keamanan lingkungan fisik, tetapi juga terciptanya suasana psikologis yang membuat anak merasa diterima, dihargai, dan terlindungi.
Para peserta menyambut positif kegiatan tersebut. Mereka menilai media digital storybook menjadi alternatif pembelajaran yang menarik dan aplikatif untuk mengenalkan konsep emosi, empati, serta perilaku anti-perundungan kepada anak-anak.
Sebagai tindak lanjut, tim PkM akan melakukan implementasi hasil pelatihan di sekolah-sekolah PAUD peserta. Guru yang telah mengikuti kegiatan diharapkan dapat menerapkan media digital storybook dalam berbagai aktivitas pembelajaran sehingga nilai-nilai anti-perundungan dapat tertanam secara berkelanjutan.
Melalui program ini, guru-guru PAUD di Sukoharjo diharapkan semakin siap menjadi agen pencegahan perundungan sejak dini. Kolaborasi antara guru, sekolah, orang tua, dan komunitas pendidikan menjadi kunci dalam membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan penuh kasih bagi anak.(*)
