31.4 C
Jakarta

Kholid Haryono Berbagi Tips Membuat Keputusan di Era AI

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COMKholid Haryono, ST, MKom, Dosen Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta berbagi tips membuat keputusan di era Artificial Intelligence (AI). Sebab di era AI, informasi sangat melimpah dan membuat seseorang kesulitan mengambil keputusan.

Tips membuat keputusan itu dilontarkan pada pada webinar yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Informatika UII Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). Webinar mengangkat tema ‘Decision Making di Era Artificial Intelligence.

Kholid Haryono menjelaskan di era AI, informasi sangat melimpah sehingga tantangan utama adalah menyaring data yang relevan dan bermakna. Sedangkan AI digunakan sebagai alat pencari informasi, serta dimanfaatkan untuk membantu merangkum, memahami, merekomendasikan, bahkan mengotomasi keputusan tertentu.

Menurut Kholid Haryono, AI memiliki tiga peran utama dalam manusia mengambil keputusan yaitu menyediakan informasi, memberikan rekomendasi berdasarkan pola data, dan mengotomasi keputusan rutin. Namun Kholid mengingatkan penggunaan AI dalam mengambil keputusan tetap memiliki risiko.

Di antaranya, pertama, over-reliance yaitu terlalu percaya pada AI hingga berhenti berpikir kritis. Kedua, AI sering bekerja seperti black box, sehingga pengguna tidak selalu memahami alasan di balik jawaban atau rekomendasinya. Ketiga, AI dapat mewarisi bias dari data pelatihan sehingga keputusan yang dihasilkan juga dapat mengandung bias. “Karena itu, AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti penilaian manusia, melainkan sebagai alat bantu yang harus tetap diverifikasi,” tandasnya.

Kholid Haryono mengingatkan dalam mengambil keputusan, manusia menggunakan model proses rasional yang terdiri atas lima langkah. Kelima langkah adalah mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi, menyusun alternatif, mengevaluasi dan memilih, serta meninjau hasil.

Selain itu, tambah Kholid, terdapat berbagai teknik pendukung keputusan. Di antaranya, decision matrix untuk pembobotan kriteria, decision tree untuk memetakan konsekuensi, metode kuantitatif seperti AHP, TOPSIS, dan SAW, serta Eisenhower Matrix untuk membedakan hal penting dan mendesak.

“AI dapat memperkuat proses ini melalui tangga analitik, mulai dari deskriptif untuk menjawab ‘apa yang terjadi,’ diagnostik untuk menjelaskan ‘mengapa terjadi,‘ prediktif untuk memperkirakan ‘apa yang akan terjadi,’ hingga preskriptif untuk menyarankan ‘apa yang sebaiknya dilakukan,’ kata Kholid.

Kolaborasi manusia dan AI menjadi kunci pengambilan keputusan yang lebih baik. AI unggul dalam menemukan pola, memproses data dalam jumlah besar, dan bekerja cepat. Sedang manusia unggul dalam memahami konteks, mempertimbangkan nilai dan etika, serta menanggung tanggung jawab atas keputusan.

Studi kasus mahasiswa PJJ menunjukkan bahwa di era AI, pilihan tidak selalu harus berbentuk ‘atau,’ tetapi dapat menjadi ‘dan.’ Mahasiswa tidak harus selalu memilih antara kuliah, bekerja, atau mengambil peluang lain. Tetapi dengan fleksibilitas Program Studi PJJ UII dan bantuan AI, berbagai pilihan dapat dikombinasikan.

Kata Kholid, AI mempercepat, memberdayakan, dan memperkaya proses pengambilan keputusan. Namun, tanggung jawab akhir tetap berada pada manusia. Prinsip praktis yang perlu diterapkan adalah menggunakan AI untuk memperluas pilihan, menanyakan asal dan kualitas data, memverifikasi rekomendasi sebelum dieksekusi, serta tetap mengambil keputusan dengan pertimbangan nilai dan keberanian bertanggung jawab.

“Dengan demikian, AI sebaiknya berada ‘di tangan’ manusia sebagai alat bantu, bukan ‘di atas’ manusia sebagai pengganti keputusan,” katanya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!