SUKOHARJO, MENARA62.COM – Mahasiswa Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menggelar edukasi dan skrining keseimbangan bagi peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Grogol, Sukoharjo. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran lansia dengan hipertensi dan diabetes melitus terhadap pentingnya menjaga keseimbangan tubuh guna mencegah risiko jatuh.
Kegiatan bertajuk “Keseimbangan pada Lansia dengan Hipertensi dan Diabetes Mellitus” tersebut dilaksanakan pada Senin (13/7/2026) dan diikuti 67 anggota Komunitas Lansia Prolanis Puskesmas Grogol. Program ini merupakan bagian dari praktik klinik komunitas mahasiswa Profesi Fisioterapis UMS yang berkolaborasi dengan tenaga kesehatan Puskesmas Grogol.
Selain mengikuti pemeriksaan kesehatan rutin, peserta menjalani skrining keseimbangan menggunakan Timed Up and Go Test (TUG Test), metode sederhana yang digunakan untuk menilai mobilitas fungsional sekaligus mendeteksi dini risiko gangguan keseimbangan pada lansia.
Sebelum pemeriksaan dimulai, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai tujuan dan manfaat TUG Test. Seluruh peserta menjalani pemeriksaan secara bergantian dengan pendampingan mahasiswa, fisioterapis, dan tenaga kesehatan untuk memastikan proses berjalan aman dan nyaman.
PIC Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMS, Januar Aan Saputra, menjelaskan bahwa skrining tersebut menjadi langkah awal untuk mengenali risiko gangguan keseimbangan sejak dini, terutama pada lansia dengan hipertensi dan diabetes melitus.
“Skrining menggunakan Timed Up and Go Test kami lakukan sebagai langkah deteksi dini untuk mengetahui risiko gangguan keseimbangan pada peserta Prolanis. Selain pemeriksaan, kami juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan tubuh melalui aktivitas fisik, pengendalian tekanan darah dan gula darah, serta penataan lingkungan yang aman agar risiko jatuh pada lansia dapat diminimalkan,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).
Edukasi Interaktif untuk Lansia
Kegiatan penyuluhan berlangsung interaktif. Para peserta aktif menyampaikan berbagai keluhan, seperti kaki terasa kebas, kehilangan keseimbangan saat bangun dari tempat tidur, hingga rasa limbung ketika berjalan.
Mahasiswa bersama fisioterapis kemudian memberikan penjelasan serta memperagakan latihan sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah untuk meningkatkan keseimbangan dan mengurangi risiko cedera akibat terjatuh.
Salah seorang peserta Prolanis berinisial Ibu S (68) mengaku memperoleh pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. Selama ini dirinya hanya mengikuti pemeriksaan tekanan darah dan gula darah tanpa mengetahui pentingnya pemeriksaan keseimbangan.
“Selama ini saya rutin datang ke Prolanis untuk memeriksa tekanan darah dan gula darah. Baru kali ini saya tahu kalau keseimbangan tubuh juga penting untuk diperiksa. Penjelasan dari adik-adik mahasiswa mudah dipahami dan selama pemeriksaan mereka mendampingi dengan sabar, sehingga saya merasa lebih nyaman. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan karena sangat bermanfaat bagi kami,” tuturnya.
Lengkapi Layanan Prolanis
Apresiasi juga disampaikan Kepala Kesehatan Puskesmas Grogol, dr. Siti Nurjanah. Menurutnya, kegiatan mahasiswa Profesi Fisioterapis UMS melengkapi layanan Prolanis yang selama ini lebih berfokus pada pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan konsultasi kesehatan.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa Profesi Fisioterapis UMS. Selama ini peserta Prolanis rutin menjalani pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan konsultasi kesehatan, namun skrining keseimbangan belum menjadi layanan rutin. Kehadiran mahasiswa memberikan edukasi yang bermanfaat sehingga peserta semakin memahami pentingnya menjaga keseimbangan tubuh untuk mencegah risiko jatuh,” katanya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Profesi Fisioterapis UMS tidak hanya mengimplementasikan kompetensi klinis yang diperoleh selama pendidikan, tetapi juga memperkuat kolaborasi interprofesi bersama fisioterapis, dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya dalam pelayanan kesehatan primer.
UMS berharap edukasi dan skrining keseimbangan dapat menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif bagi lansia dengan hipertensi maupun diabetes melitus. Dengan deteksi dini dan edukasi yang tepat, lansia diharapkan mampu mempertahankan kemandirian, mengurangi risiko jatuh, serta meningkatkan kualitas hidup di usia lanjut. (*)

