SOLO, MENARA62.COM — Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah tidak hanya menjadi ruang permusyawaratan dan regenerasi kepemimpinan organisasi perempuan muda Muhammadiyah.
Di tengah agenda Muktamar yang berlangsung di Edutorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), panitia menghadirkan Taman Asuh Anak bagi peserta yang datang bersama buah hati.
Sebanyak 101 anak tercatat sebagai peserta pendamping dalam Muktamar yang berlangsung di Surakarta, 6-8 Agustus 2026.
Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Tengah, Monica Subastia, mengatakan fasilitas tersebut disiapkan agar para ibu tetap dapat mengikuti seluruh rangkaian Muktamar tanpa harus mengabaikan kebutuhan anak.
“Jadi ayunda-ayunda, ibu-ibunya bermusyawarah, anak-anaknya ada di Taman Asuh yang didampingi oleh tenaga profesional pendidikan anak usia dini,” ujar Monica seusai upacara pembukaan Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah, Jumat (7/8/2026).
Menurut Monica, Taman Asuh Anak dibuka sejak pagi hingga malam. Anak-anak peserta mendapatkan pendampingan dari tenaga profesional pendidikan anak usia dini selama orangtua mengikuti kegiatan Muktamar.
Angkat isu perempuan dan keberlanjutan
Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah mengusung tema “Mewujudkan Perempuan Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan.”
Monica mengatakan tema tersebut menjadi penegasan arah gerakan Nasyiatul Aisyiyah dalam menyiapkan perempuan muda yang tidak hanya memiliki kapasitas kepemimpinan, tetapi juga peka terhadap persoalan keberlanjutan.
“Tema ini sejalan dengan bagaimana kita menumbuhkan perempuan-perempuan muda berkemajuan untuk isu-isu keberlanjutan dan membangun peradaban yang utama,” kata Monica.
Pembukaan Muktamar dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini.
Sekitar 6.500 peserta dan tamu undangan hadir dalam pembukaan Muktamar. Acara tersebut juga dimeriahkan penampilan penyanyi religi Sulis Cinta Rasul.
Dorong Muktamar ramah lingkungan
Selain menghadirkan ruang ramah anak, Nasyiatul Aisyiyah juga mengusung konsep Green Muktamar.
Konsep tersebut diarahkan untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus memastikan sampah yang dihasilkan selama kegiatan dapat dikelola dengan baik.
“Di Muktamar ini kami menggerakkan Green Muktamar, di mana kita meminimasi sampah dan mengelola sampah dengan baik,” ujar Monica.
Menurut dia, konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan penyelenggaraan Muktamar selaras dengan semangat keberlanjutan yang diangkat dalam tema utama.
Panitia juga menyediakan program MBG (Makan Bersama Gembira) melalui kerja sama Lazismu Jawa Tengah dengan lembaga terkait kebencanaan.
142 kader Jawa Tengah bawa gagasan
Sebagai tuan rumah, PWNA Jawa Tengah turut membawa aspirasi kader dari berbagai daerah untuk dibawa dalam forum Muktamar tingkat nasional.
Monica menyebut terdapat 142 peserta yang merupakan perwakilan PWNA, PDNA, dan PCNA se-Jawa Tengah.
“Kami membawa semangat gagasan dari 142 peserta perwakilan PWNA, PDNA, dan PCNA se-Jawa Tengah,” tuturnya.
Dia berharap gagasan yang dibawa kader Nasyiatul Aisyiyah Jawa Tengah dapat berkontribusi terhadap arah gerakan organisasi di tingkat nasional.
Selain itu, Muktamar juga diharapkan menjadi ruang untuk mendorong kader-kader terbaik Jawa Tengah mengambil peran lebih besar dalam kepemimpinan Nasyiatul Aisyiyah di tingkat pusat.
“Insyaallah nanti kita akan membawa gagasan kita Jawa Tengah dan juga mentransformasikan kader-kader terbaik Jawa Tengah untuk berada di Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah,” kata Monica.
Dengan demikian, Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah tidak sekadar menjadi forum pergantian dan penguatan kepemimpinan organisasi. Muktamar juga menunjukkan bagaimana gerakan perempuan muda dapat mengintegrasikan isu kepemimpinan, pengasuhan anak, dan kepedulian lingkungan dalam satu agenda besar. (*)

