SOLO, MENARA62.COM — Nasyiatul Aisyiyah mendorong penguatan kepemimpinan perempuan muda melalui kemandirian ekonomi, transformasi digital, hingga kesadaran ekologis untuk menghadapi tantangan pembangunan dan bonus demografi Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) Ariati Dina Puspitasari dalam pidato iftitah pembukaan Muktamar ke-15 di Ballroom Hotel Dwangsa Solo, Jumat (7/8/2026).
Muktamar ke-15 mengusung tema “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan.” Forum tertinggi organisasi kader perempuan muda Muhammadiyah tersebut menjadi momentum untuk merumuskan arah gerakan Nasyiatul Aisyiyah menghadapi tantangan periode mendatang.
Ariati mengatakan bonus demografi Indonesia harus dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan. Ia merujuk data SUPAS 2025 yang mencatat jumlah penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta jiwa, dengan 68,98 persen di antaranya merupakan generasi muda.
Menurut dia, besarnya jumlah generasi muda dapat menjadi kekuatan pembangunan apabila disertai investasi serius pada pendidikan, kesehatan, serta keterlibatan perempuan dalam berbagai bidang.
“Muktamar ke-15 ini menegaskan bahwa perempuan muda tidak boleh lagi hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi harus menjadi perancang, penggerak, sekaligus pengambil keputusan bagi masa depan bangsa,” tegas Ariati.
Kepemimpinan Perempuan Masih Menghadapi Tantangan
Ariati menyoroti masih terbatasnya ruang kepemimpinan perempuan, khususnya di sektor sains, teknologi, dan politik.
Ia merujuk Global Gender Gap Report 2025 yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-97 dari 148 negara.
Dalam paparannya, keterlibatan perempuan di sejumlah sektor strategis juga masih relatif rendah. Perempuan disebut baru mencapai 27 persen di sektor teknologi baru, 35,7 persen akademisi di institut teknologi, dan 22,14 persen di panggung politik.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembukaan ruang yang lebih luas bagi perempuan muda untuk mengambil peran dalam bidang-bidang strategis pembangunan.
Tantangan kepemimpinan perempuan juga berkelindan dengan persoalan lingkungan. Di Indonesia, perempuan kerap menjadi kelompok yang rentan terdampak bencana akibat krisis iklim.
Karena itu, Ariati menilai penguatan kepemimpinan perempuan harus berjalan beriringan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesadaran ekologis.
“Peradaban berkelanjutan bukanlah proyek jangka pendek, melainkan amanah lintas generasi. Memajukan perempuan muda bukan sekadar memperkuat peran perempuan, tetapi membangun masa depan umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Dorong Ekonomi Hijau hingga Ekonomi Syariah
Memasuki usia 95 tahun, Nasyiatul Aisyiyah memetakan sejumlah pilar strategis untuk memperkuat gerakan pada periode mendatang.
Dalam bidang ekonomi, organisasi tersebut akan mendorong kemandirian melalui pendekatan ecolivelihood, pengembangan ekonomi hijau, ekonomi sirkular, ekonomi syariah, serta penguatan ketahanan pangan keluarga.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi kader sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan ketahanan pangan.
Di sisi lain, transformasi digital menjadi agenda penting dalam penguatan dakwah dan pengembangan kapasitas kader.
Nasyiatul Aisyiyah mendorong peningkatan literasi digital, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), penguatan branding, serta optimalisasi diaspora kader di ruang publik.
Transformasi tersebut diharapkan mampu membuat kader perempuan muda lebih adaptif terhadap perubahan teknologi sekaligus memperluas ruang kontribusi mereka di tengah masyarakat.
Lanjutkan Program Unggulan
Ariati menegaskan berbagai agenda strategis tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem kepemimpinan perempuan muda yang kuat.
Agenda tersebut sekaligus melanjutkan sejumlah program yang telah dijalankan pada periode kepemimpinan 2022–2026, antara lain PASHMINA, Sekolah Kepemimpinan Perempuan, dan pelatihan paralegal.
“Seluruh fokus strategis ini bermuara pada penguatan ekosistem kepemimpinan perempuan muda yang melanjutkan keberhasilan program periode 2022–2026, seperti PASHMINA, Sekolah Kepemimpinan Perempuan, dan pelatihan paralegal, dengan tetap berakar pada nilai tauhid dan akhlak,” ungkap Ariati.
Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah diharapkan menghasilkan kepemimpinan baru yang visioner dan adaptif.
Kepemimpinan tersebut akan menjadi modal bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk memasuki abad keduanya sebagai gerakan Islam berkemajuan yang mampu menjawab perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tauhid dan akhlak.
Dengan penguatan ekonomi, transformasi digital, kepemimpinan perempuan, serta kesadaran ekologis, Nasyiatul Aisyiyah menempatkan kader perempuan muda bukan sekadar sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi sebagai aktor yang ikut menentukan arah masa depan bangsa. (*)
