SOLO, MENARA62.COM — Kabar baik datang bagi kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang mengikuti Muktamar ke-15 NA di Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ menyiapkan beasiswa penuh untuk kader NA yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan doktor.
Program tersebut diumumkan Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. dalam penutupan Muktamar ke-15 NA yang digelar di Ballroom Hotel Dwangsa, Surakarta, Sabtu (8/8/2026).
Penutupan Muktamar ke-15 NA turut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah Salmah Orbaniyah, serta sejumlah tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Harun mengatakan, tawaran beasiswa tersebut merupakan bagian dari komitmen UMS dalam memperkuat kualitas kader perempuan Muhammadiyah melalui pendidikan tinggi.
“Kami akan berikan beasiswa kepada kader-kader NA yang mengikuti Muktamar ke-15 NA di Surakarta ini, di program magister dan program doktor, sehingga kami dapat membantu mencetak kader-kader perempuan yang militan,” ujar Harun.
Menurut Harun, beasiswa diberikan kepada kader NA yang memiliki komitmen untuk mengembangkan kontribusi nyata di lingkungan persyarikatan. Ia berharap pendidikan tinggi dapat menjadi sarana memperkuat kapasitas kader sekaligus memperluas kiprah perempuan dalam berbagai bidang.
Harun juga menyampaikan perkembangan penerimaan mahasiswa baru UMS. Hingga pelaksanaan Muktamar ke-15 NA, tercatat sekitar 27.500 calon mahasiswa telah mendaftar ke UMS. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.250 calon mahasiswa telah melakukan registrasi.
Ia menilai tema yang diusung dalam Muktamar ke-15 NA memiliki keterkaitan dengan visi UMS sebagai universitas Islam yang mencerahkan.
NA Didorong Jadi Gerakan yang Mencerahkan
Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah terpilih periode 2026-2030, Monica Subastia, M.Pd., menegaskan bahwa amanah memimpin NA selama satu periode ke depan merupakan tanggung jawab besar.
Ia mengatakan, NA harus hadir sebagai organisasi perempuan yang mampu memberikan solusi sekaligus membawa pencerahan bagi masyarakat.
“NA lahir bukan sebagai gerakan berpangku tangan, bukan sebagai gerakan emak-emak biasa. Namun, NA hadir sebagai organisasi perempuan yang dapat menjadi solusi dan memberikan pencerahan,” kata Monica.
Menurut Monica, gerakan NA harus mampu dirasakan hingga tingkat akar rumput. Karena itu, organisasi tidak cukup hanya membangun identitas atau branding gerakan, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
Ia menilai penguatan gerakan dapat dimulai dari lingkungan paling kecil, yakni keluarga. Ketahanan keluarga diyakini menjadi salah satu fondasi penting bagi NA untuk menjawab berbagai tantangan zaman.
“Maka, dimulai dari ekosistem kecil yang sederhana, akan menjadi satu-satunya alasan gerakan NA bisa menjawab segala tantangan zaman,” ujarnya.
Monica juga menyoroti pentingnya literasi digital bagi kader NA di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Menurut dia, kader perempuan NA perlu memiliki kemampuan untuk memperoleh dan mengolah referensi aktual sebagai bagian dari penguatan gerakan.
“NA siap memberikan narasi-narasi di ruang digital yang sesuai dengan kebutuhan perempuan yang ramah dan aman,” katanya.
Abdul Mu’ti: NA Mitra Strategis Pendidikan
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan optimismenya terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan nasional.
Ia menyebut kader Nasyiatul Aisyiyah sebagai salah satu kekuatan strategis yang dapat mendukung program pemerintah di bidang pendidikan. Terlebih, banyak kader NA yang berprofesi sebagai guru.
“NA menjadi mitra strategis kami untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu. Karena masih terdapat kesenjangan mutu pendidikan, dan masih ada sebagian anak-anak Indonesia yang belum mendapat pendidikan yang semestinya,” ujar Mu’ti.
Menurut Mu’ti, pemerintah berupaya memperluas akses pendidikan melalui konsep broad based education atau pendidikan berbasis luas.
Konsep tersebut memungkinkan pendidikan diperoleh anak-anak tidak hanya melalui jalur formal, tetapi juga melalui kegiatan nonformal yang dilakukan lembaga maupun organisasi kemasyarakatan.
“Pendidikan dapat diterima oleh anak-anak lewat kegiatan nonformal yang sering dilakukan oleh lembaga atau organisasi, salah satunya seperti Nasyiatul Aisyiyah,” pungkasnya.
Dengan tawaran beasiswa magister dan doktor dari UMS, Muktamar ke-15 NA tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga membuka peluang penguatan kapasitas akademik kader perempuan untuk memperluas kontribusi di masyarakat dan persyarikatan. (*)
