26.3 C
Jakarta

Afnan Kembali Pimpin Tapak Suci hingga 2031

Baca Juga:

SEMARANG, MENARA62.COM — M. Afnan Hadikusumo kembali dipercaya memimpin Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah periode 2026–2031. Afnan ditetapkan secara aklamasi oleh sembilan anggota formatur hasil Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Semarang.

 

Keputusan tersebut menjadi salah satu hasil penting Muktamar XVI yang berlangsung pada 6–9 Agustus 2026. Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menjadi pusat persidangan, sedangkan pembukaan akbar digelar di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang.

 

Muktamar XVI mengusung tema “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri, dan Mendunia.” Tema itu menjadi pijakan organisasi dalam merumuskan arah gerak Tapak Suci untuk lima tahun mendatang.

 

Forum permusyawaratan tertinggi Tapak Suci tersebut tidak hanya membahas evaluasi kepengurusan, tetapi juga peraturan organisasi, keilmuan, program kerja 2026–2031, Anggaran Rumah Tangga, rekomendasi, hingga pemilihan kepemimpinan baru.

 

Afnan Raih Suara Tertinggi

 

Tahapan pemilihan kepemimpinan berlangsung melalui Sidang Tanwir pada Jumat (7/8/2026). Forum tersebut menetapkan sembilan anggota formatur yang mendapat mandat menyusun kepemimpinan Pimpinan Pusat Tapak Suci periode 2026–2031.

 

Afnan memperoleh suara tertinggi dengan 528 suara atau 8,56 persen. Di bawahnya terdapat Rony Syaifullah dengan 510 suara, M. Shiddiq 452 suara, Jazim Ahmad 386 suara, dan M. Wafid Agung Novianto 378 suara.

 

Selanjutnya Abas Akbar memperoleh 373 suara, M. Sasmito Djati 322 suara, Mus Suherman 313 suara, dan Wiwoho Aji Santoso 310 suara.

 

Sembilan formatur tersebut kemudian secara aklamasi menetapkan Afnan Hadikusumo sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah periode 2026–2031.

 

Keputusan aklamasi itu sekaligus menegaskan kepercayaan keluarga besar Tapak Suci terhadap pengalaman, dedikasi, dan arah kepemimpinan Afnan.

 

Hadapi Tantangan Digital dan Kemandirian

 

Memasuki periode kedua, Afnan menyoroti sejumlah tantangan yang harus dijawab Tapak Suci. Dua di antaranya adalah penguatan teknologi informasi dan kemandirian organisasi.

 

Menurutnya, organisasi modern tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan tradisi dan militansi kader. Tapak Suci membutuhkan sistem informasi yang kuat, tata kelola adaptif, pengelolaan sumber daya yang mandiri, serta strategi komunikasi yang mampu menjangkau generasi muda dan masyarakat global.

 

Pembangunan padepokan juga menjadi salah satu perhatian. Pimpinan Pusat Tapak Suci sebelumnya telah memulai pembangunan padepokan di atas lahan wakaf Persyarikatan Muhammadiyah di Yogyakarta.

 

Padepokan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi pusat pembinaan, pengembangan keilmuan, kaderisasi, dan aktivitas organisasi.

 

Tak Sekadar Mengejar Medali

 

Muktamar XVI juga menegaskan bahwa masa depan Tapak Suci tidak semata-mata diukur dari jumlah kejuaraan dan medali.

 

Prestasi olahraga tetap menjadi bagian penting. Namun, sebagai perguruan pencak silat yang berada dalam lingkungan Muhammadiyah, Tapak Suci memiliki mandat yang lebih luas, yakni pendidikan karakter, kaderisasi, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Karena itu, kekuatan fisik harus berjalan seiring dengan pembentukan mental, disiplin, kecerdasan, iman, dan akhlak.

 

Tema “Modern, Mandiri, dan Mendunia” menjadi tantangan sekaligus arah bagi kepemimpinan Afnan lima tahun ke depan.

 

Modernisasi diarahkan pada penguatan profesionalitas, digitalisasi, data kader, komunikasi, dan tata kelola organisasi. Kemandirian menyangkut kemampuan mengembangkan sumber daya organisasi. Sementara orientasi mendunia diarahkan pada perluasan jejaring internasional, pembinaan Tapak Suci di luar negeri, peningkatan prestasi, serta pengenalan pencak silat dan nilai-nilai Tapak Suci kepada masyarakat global.

 

Namun, modernisasi tersebut tetap harus berakar pada tradisi kependekaran.

 

Nilai disiplin, keberanian, persaudaraan, iman, dan akhlak menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara tradisi dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.

 

Amanah Besar Lima Tahun ke Depan

 

Afnan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan Muktamar XVI. Menurutnya, keberhasilan muktamar merupakan hasil kerja bersama panitia, peserta, pimpinan, pendekar, kader, dan seluruh elemen Tapak Suci.

 

Terpilihnya kembali Afnan bukan sekadar keberlanjutan kepemimpinan personal. Mandat tersebut membawa ekspektasi agar capaian periode sebelumnya diperkuat sekaligus melahirkan pembaruan.

 

Dengan jaringan Muhammadiyah yang luas, tradisi kependekaran, kader yang tersebar di berbagai daerah, serta pengalaman panjang dalam pembinaan, Tapak Suci memiliki modal untuk menghadapi tantangan lima tahun mendatang.

 

Kepemimpinan Afnan periode 2026–2031 kini dihadapkan pada pekerjaan besar: memperkuat kaderisasi, meningkatkan prestasi, membangun kemandirian, memperbaiki tata kelola, serta memperluas jejaring internasional.

 

Muktamar XVI di Semarang pun menjadi titik awal bagi Tapak Suci untuk menerjemahkan keputusan forum tertinggi organisasi menjadi kerja nyata.

 

Kepercayaan secara aklamasi kepada Afnan Hadikusumo menjadi amanah sekaligus pesan agar kesinambungan kepemimpinan tidak berarti berjalan di tempat.

 

Tapak Suci dituntut tetap kokoh berakar pada tradisi, tetapi semakin modern dalam bergerak, mandiri dalam mengelola organisasi, dan mendunia dalam memberikan manfaat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!