SOLO, MENARA62.COM — Masa Ta’aruf (Masta) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ digelar selama dua hari, Jumat-Sabtu (4-5/9/2026), di Ruang Meeting Besar Gedung Griya Mahasiswa UMS.
Mengusung tema “Revitalisasi Nilai Kader dalam Dialektik Pergerakan”, kegiatan tersebut menjadi momentum penguatan ideologi kemuhammadiyahan sekaligus pengenalan IMM kepada mahasiswa Pondok Shabran UMS.
Masta dirancang sebagai ruang kaderisasi untuk memperkenalkan IMM sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang memiliki keterikatan kuat dengan sejarah dan tradisi Pondok Shabran.
Ketua Umum Komisariat Pondok Shabran UMS, Nashiruddin Amin, mengatakan pelaksanaan Masta lebih awal dibandingkan agenda serupa di lingkungan kampus tidak terlepas dari karakter koordinasi dan tradisi kaderisasi yang telah berkembang di Pondok Shabran.
“Dari jalur koordinasi, Komisariat Pondok Shabran berkoordinasi langsung dengan pihak pondok, tidak melalui kampus, sehingga tidak terlalu berdampak dengan ketetapan kampus,” ujar Nashiruddin, Senin (7/9/2026).
Menurut dia, Masta menjadi momentum strategis untuk memberikan pemahaman fundamental mengenai ideologi Muhammadiyah dan nilai-nilai ke-IMMan kepada kader baru.
Hal itu dinilai penting karena Pondok Shabran UMS memiliki posisi sebagai salah satu wahana kaderisasi Muhammadiyah.
“Ketika mereka telah diterima di Pondok Shabran secara tidak langsung mereka akan menjadi kader atau anggota IMM, tanpa perlu penjaringan lagi. Sehingga kami ingin memaksimalkan pemahaman kader dengan silabus materi yang ada,” katanya.
Teguhkan Nilai IMM dalam Gerakan Mahasiswa
Nashiruddin menjelaskan, Pimpinan Komisariat IMM Pondok Shabran ingin kembali meneguhkan nilai-nilai IMM sebagai fondasi bagi kader dalam menjalankan aktivitas gerakan mahasiswa.
Karena itu, Masta tidak hanya diarahkan pada pengenalan organisasi, tetapi juga mengedepankan forum dialektika agar peserta mampu memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai IMM selama menjalani masa studi.
Ia berharap nilai yang diperoleh selama Masta tidak berhenti sebagai wacana diskusi, tetapi dapat diwujudkan dalam aktivitas nyata.
“Mereka boleh pergi ke mana saja, asalkan nilai-nilai yang dibawa adalah nilai yang selaras dengan keislaman, kemuhammadiyahan, dan ke-IMMan,” tegasnya.
Trilogi IMM Jadi Landasan Gerak
Direktur Pondok Shabran UMS, Yayuli, S.Ag., M.P.I., dalam pemaparannya menekankan pentingnya memahami Trilogi IMM sebagai landasan beramal dalam kehidupan.
Menurutnya, tiga ranah utama dalam Trilogi IMM, yakni keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan, harus berjalan secara kompatibel dalam diri seorang kader.
“Mahasantri Shabran dibentuk sebagai kader yang dapat menghidupkan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan di daerah tertinggal, terdepan, terluar,” jelas Yayuli.
Ia menambahkan, keberadaan Pondok Shabran tidak terlepas dari kebutuhan Muhammadiyah terhadap kader yang mampu memperkuat spirit modernisasi dan purifikasi.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya gagasan tentang tempat strategis untuk mencetak kader Muhammadiyah yang militan. Upaya itu kemudian mendapat dukungan melalui tanah wakaf dari keluarga Hajjah Nuriah Shabran.
Yayuli menyebut gagasan pendidikan berbasis kaderisasi juga berangkat dari kesadaran mengenai semakin langkanya ulama yang dinilai mumpuni dalam memperkokoh ruh tajdid Muhammadiyah.
“Munculnya kesadaran kelangkaan ulama yang mumpuni untuk memperkokoh ruh tajdid Muhammadiyah, sehingga Djazman Al Kindi menggagas konsep pendidikan berbasis kaderisasi,” pungkasnya.
Melalui Masta tersebut, IMM Komisariat Pondok Shabran UMS berupaya memastikan kader tidak hanya mengenal organisasi, tetapi juga memahami nilai, ideologi, serta arah gerakan yang menjadi pijakan dalam kehidupan keislaman, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. (*)

