25 C
Jakarta

Pemulihan Ekonomi Global Tahun 2017 Masih Lambat

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Pemulihan ekonomi global masih berjalan lambat dan diwarnai risiko ketidakpastian. Risiko yang dihadapi berasal dari inflasi negara-negara maju, kecuali Amerika Serikat, yang tingkat inflasinya masih jauh dari target seiring permintaan domestik yang masih lemah, pengetatan kebijakan moneter AS yang lebih cepat, perekonomian Tiongkok sebagai lokomotif dunia tumbuh melambat dan munculnya gerakan nasionalisme, khususnya di negara maju, yang cenderung lebih protektif.

Hal itu dikatakan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D. Hadad, Ph.D, dalam siaran pers akhir tahun OJK, Jumat (6/1/2017). Menurut Muliaman, sepanjang tahun 2016, World Bank dan IMF merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi global.

“Pemangkasan proyeksi pertumbuhan global juga disertai dengan penurunan volume perdagangan dunia tahun 2016 yang semakin menegaskan belum solidnya pemulihan ekonomi global,” kata Muliaman D. Hadad yang menambahkan, pertumbuhan ekonomi global di tahun 2017 diproyeksikan sedikit mengalami penurunan dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2016.

Sejalan dengan perlambatan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi domestik tahun 2016 menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik dibanding negara Emerrging Markets lainnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2016 tercatat sebesar 5,02% yoy, sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,19%. Meskipun demikian, pertumbuhan ini masih lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan III-2015 sebesar 4,74% yoy.

Bagi Muliaman, kondisi ekonomi domestik yang tetap kuat mendorong apresiasi Rupiah dan penguatan IHSG sepanjang 2016. Sentimen positif domestik terkait perkembangan perekonomian yang lebih baik dari ekspektasi pasar dan program keberhasilantax amnesty, dinilai mampu menjaga penguatan IHSG dan nilai tukar di tengah dinamika kenaikan FFR dan fluktuasi harga minyak.

Sementara itu, kondisi stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia masih berada dalam kondisi normal. Kinerja pasar keuangan domestik secara umum juga masih cukup baik. Tingkat kesehatan lembaga jasa keuangan juga masih dalam kondisi terjaga dengan didukung tingkat permodalan yang tinggi dan likuditas yang memadai. Aktivitas intermediasi lembaga jasa keuangan juga mencatat beberapa perbaikan.

Sampai dengan 29 Desember 2016, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada posisi 5.302,57 meningkat sebesar 15,45% dibandingkan posisi penutupan tahun lalu. Pertumbuhan IHSG sebesar 15,45% merupakan pertumbuhan indeks terbaik ke dua di kawasan Asia Pasifik dan rangking 5 terbaik dunia.

Dari sisi pertambahan jumlah emiten yang tercatat di BEI, di tahun 2016 ini BEI berhasil menambah 16 emiten saham baru, suatu angka yang jauh lebih baik dari Bursa Efek Singapura dan Filipina, yang masing-masing justru kehilangan atau minus 10 dan 1 emiten di tahun yang sama.

Industri Reksadana juga mengalami pertumbuhan yang cukup baik. NAB Reksa Dana meningkat 22,66% menjadi Rp333,61 triliun. Peningkatan juga terjadi pada jumlah dan nilai penawaran umum, di mana pasar modal kita berhasil memobilisasi dana melalui IPO saham sebanyak 14 perusahaan dengan nilai sebesar Rp12,07 triliun, right issue saham sebanyak 34 perusahaan sebesar Rp68,06 triliun, obligasi korporasi sebanyak 75 perusahaan sebesar Rp115,46 triliun dan total nilai penawaran umum selama 2016 sebesar Rp194,74 triliun atau naik 68,94% dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, sepanjang tahun 2016, kegiatan intermediasi LJK menunjukkan pertumbuhan yang moderat. Dana pihak ke tiga tumbuh sebesar 8,40% yoy menjadi Rp4.734 triliun yang didominasi oleh pertumbuhan tabungan sebesar 12,49% kemudian giro (8,29%) dan deposito (5,85%).

Kredit perbankan per November 2016 tumbuh sebesar 8,46% yoy menjadi Rp4.285 triliun. Kredit Rupiah mendominasi pertumbuhan kredit dengan pertumbuhan sebesar 9,41% yoy. Sedangkan kredit valas tumbuh sebesar 3,35% meliputi kredit investasi tumbuh paling tinggi yakni sebesar 11,75% yoy, kemudian diikuti dengan kredit konsumsi (7,39%) dan kredit modal kerja sebesar 7,34%. Dari sisi sektor usaha, 4 sektor yang tumbuh paling tinggi pertumbuhan kreditnya adalah sektor listrik (40,17% yoy), sektor konstruksi (21,42% yoy), sektor administrasi pemerintahan (18,38% yoy) dan pertanian (16,67% yoy).

Pada industri keuangan nonbank, total aset IKNB per November 2016 meningkat 10,59% menjadi Rp1.810 triliun. Peningkatan ini didukung peningkatan pada piutang pembiayaan sebesar 5,63% menjadi Rp383,76 triliun dan peningkatan investasi dana pensiun sebesar 12,64% menjadi Rp 224,22 triliun. (Affan Safani Adham)

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!