SOLO, MENARA62.COM – Luka hati yang dipendam bertahun-tahun hanya bisa benar-benar sembuh dengan mendekat kepada Allah SWT dan belajar memaafkan. Pesan tersebut disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, dalam Kuliah Subuh Muhammadiyah Gajahan di TK ABA Patang Puluhan, Solo, Ahad (19/7/2026).
Mengangkat tema “Melepas Luka, Mengobati Hati”, Ustaz Dwi mengajak jamaah menjadikan iman, doa, dan sikap lapang dada sebagai jalan untuk menyembuhkan luka batin yang kerap membekas akibat pengkhianatan, penghinaan, atau perlakuan yang menyakitkan.
Mengutip firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 22, ia mengingatkan pentingnya memaafkan sesama sebagai jalan meraih ampunan Allah.
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?” kutipnya.
Menurut anggota Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo itu, hampir setiap orang pernah mengalami pengalaman pahit dalam hidup. Meski peristiwa tersebut telah berlalu, bekas luka di hati sering kali masih tersimpan dan memengaruhi kehidupan seseorang.
“Luka di tubuh mungkin bisa sembuh dalam hitungan hari atau minggu, tetapi luka hati terkadang bertahan bertahun-tahun,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk tidak larut dalam luka. Sebaliknya, orang beriman diperintahkan mencari wasilah atau jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Ma’idah ayat 35.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung,” katanya mengutip ayat Al-Qur’an.
Ustaz Dwi menjelaskan, mendekat kepada Allah dapat dilakukan dengan memperbanyak doa, istigfar, memperbaiki ibadah, serta melatih diri untuk memaafkan meski tidak mudah.
“Jika hari ini hati masih terasa sakit, jangan menyalahkan diri sendiri. Teruslah mendekat kepada Allah. Ceritakan semua kesedihanmu dalam doa. Perbanyak istigfar dan berlatih memaafkan sedikit demi sedikit,” pesannya.
Dalam tausiyahnya, anggota Korps Mubalig Solo itu juga mengajak jamaah menghidupkan salat malam sebagai sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Allah. Ia mengutip Surah Adz-Dzariyat ayat 17–18 dan Surah As-Sajdah ayat 16 yang menggambarkan kemuliaan orang-orang yang bangun di sepertiga malam untuk bermunajat.
Menurutnya, orang yang terbiasa mendekat kepada Allah akan memiliki hati yang lebih tenang, kuat menghadapi ujian, dan mampu melepaskan beban masa lalu.
Ia menambahkan, keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah telah memberikan teladan dengan membiasakan diri bangun malam untuk beribadah, bukan karena terpaksa, melainkan karena telah merasakan manisnya keimanan.
Menutup tausiyahnya, Ustaz Dwi menyampaikan pesan yang menyentuh kepada seluruh jamaah agar tidak kehilangan harapan ketika menghadapi luka batin.
“Luka yang kau sembunyikan, yakinlah Allah yang menyembuhkan,” pungkasnya. (*)
