DITERIMA di Fakultas dan Universitas yang diidamkan sejak awal menjadikan satu hal yang kita syukuri. Meski tidak lewat jalur prestasi. Tapi, mandiri. Bedanya di beaya. UKT dan atau uang pangkal. Ketika aku beritahu, kalau keluarga masuk desil diangka 9, Rohman kaget.
“Bapak kan bukan ASN dengan pangkat tinggi atau sekelas pejabat apa gitu, kok desil-nya tinggi. Nanti uang pangkalnya jatuhnya tinggi lho pak, termasuk UKT ( Uang Kuliah Tunggal ) juga tinggi,” terang Rohman seolah sudah pernah kuliah saja. Mendengar informasi itu, aku minta Rohman tetap tenang. Gak usah terlalu galau atau rekatif. Kalau niat dan tujuan kita baik, meski sebenarnya dalam hati : ketar-ketir ( khawatir ) juga. Mampu tidak dengan uang pangkal dengan 2 digit pun UKT diatas rata-rata. Tetapi kekhawatiran itu, cukup aku telan dalam-dalam. Jangan sampai anak tahu.
“Insya Allah ada jalan keluar. Jika ditetapkan tinggi dan kita tidak atau kurang mampu masih hak sanggah. ” kataku menenangkan hatinya. Agar tidak kecil hati, hingga berdampak pada semangat belajarnya kelas.
Yang masih menjadi PR untuk Rohman adalah dua. Pertama kegemarannya main game hingga lama dan larut malam, sehingga tidak jarang sholat subuhnya menjadi kedodoran. Bangun kesiangan. Meski sudah diingatkan bangun cepat, karena tidur cepat. Dan satu lagi masih suka maen dengan teman-temannya hingga larut juga. Pulang diatas jam 10 malam, bagi kami tentu mengkhawatirkan. Kalau dibangunkan, seperti bukan dirinya yang menjawab: membentak dan ngomel yang berkepanjangan.
“Gak ingin daftar di Al-Azhar kairo, le ? ” pancingku. Ingin tahu reaksinya.
“Besok aku setelah bekerja, bisa ke Kairo, tidak harus kuliah disana. Bapak ibu dan mas aku ajak ke sana, healing.” jawabnya mantap. Meski belum ada gambaran sedikitpun. Dalam hati aku menjawab, semoga Allah kabulkan. Karena bagi-Nya tidak ada yang sulit. ( bersambung )
#14 – Novelet BdLA – Menunggu Waktu Kuliah Tiba
- Advertisement -
