31.6 C
Jakarta

PPK Ormawa PRISMA UMS Bekali Ibu Tangani Diare Anak

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) PRISMA Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id bersama Lembaga SIGAP memperkuat kesiapsiagaan keluarga menghadapi diare pada anak melalui program Kelas Ibu Atasi Diare (KIAD) di Desa Blimbing, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo.

 

Sebanyak 40 ibu rumah tangga mengikuti kegiatan yang membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan penanganan awal diare serta dehidrasi pada anak. Edukasi tidak hanya diberikan secara teori, tetapi dilengkapi simulasi, praktik langsung, inovasi alat tepat guna, hingga pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR).

 

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat peran ibu sebagai garda terdepan kesehatan keluarga. Peserta dilatih mengenali gejala awal diare dan tanda-tanda dehidrasi sehingga dapat memberikan pertolongan pertama sebelum kondisi anak berkembang menjadi lebih berat.

 

Ketua Pelaksana KIAD, Rengga Prayoga, mengatakan program tersebut dirancang berdasarkan kebutuhan kesehatan anak di tingkat keluarga.

 

“Kami berharap peserta tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga mampu mempraktikkan langkah penanganan diare secara mandiri sehingga risiko dehidrasi berat pada anak dapat dicegah sedini mungkin,” ujar Rengga, Sabtu (5/9/2026).

 

Ibu Dilatih Membuat Oralit hingga Cuci Tangan

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal peserta mengenai diare dan dehidrasi. Selanjutnya, tim memberikan materi mengenai penyebab diare, tanda-tanda dehidrasi, penanganan awal di rumah, serta langkah pencegahannya.

 

Peserta kemudian diajak mengikuti simulasi dan praktik agar pengetahuan yang diperoleh dapat langsung diterapkan.

 

Dalam demonstrasi pembuatan oralit, D. Clarita Selly Agatha dan Alfia Azzahra dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS mendampingi peserta mempraktikkan pembuatan larutan rehidrasi dengan bahan yang mudah ditemukan di rumah.

 

Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai enam langkah Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Tim mahasiswa turut memperkenalkan inovasi alat tepat guna bernama SEKAKI atau Cuci Tangan Pakai Kaki, yang dirancang untuk memudahkan penerapan kebiasaan hidup bersih.

 

Bidan Desa Blimbing, Nurhayanti, mendukung pelaksanaan KIAD. Ia menekankan pentingnya penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten sebagai salah satu upaya mencegah diare pada anak.

 

Menurutnya, keluarga perlu memperhatikan kebersihan makanan dan air minum serta membiasakan anak mencuci tangan dengan benar.

 

“Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam KIAD perlu terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.

 

Edukasi Diare Dibuat Interaktif dengan Teknologi AR

 

Hal menarik dalam KIAD adalah penggunaan teknologi Augmented Reality (AR) sebagai media edukasi kesehatan.

 

Dengan dipandu mahasiswa, peserta menggunakan aplikasi AR untuk melihat visualisasi dampak diare dan dehidrasi dalam tampilan tiga dimensi yang interaktif.

 

Pendekatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda. Materi kesehatan yang sebelumnya bersifat abstrak dapat divisualisasikan sehingga lebih mudah dipahami peserta.

 

Setelah seluruh materi dan praktik selesai, peserta kembali mengikuti post-test untuk mengukur perkembangan pemahaman mereka.

 

Tim PPK Ormawa PRISMA UMS kemudian membagikan paket perlengkapan sanitasi dan rehidrasi kepada peserta. Paket tersebut berisi sabun cuci tangan, sachet oralit, dan leaflet panduan kesehatan.

 

Program KIAD yang dilaksanakan pada 26 Agustus 2026 itu menjadi bagian dari upaya mahasiswa UMS menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat yang berangkat dari kebutuhan keluarga.

 

Melalui kombinasi edukasi, praktik, alat tepat guna, dan teknologi AR, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan keluarga dalam mencegah serta menangani diare pada anak sejak dini.

 

Pada akhirnya, penguatan pengetahuan ibu di tingkat rumah tangga diharapkan tidak hanya membantu menghadapi diare ketika terjadi, tetapi juga membangun kebiasaan sanitasi dan perilaku hidup bersih yang lebih konsisten di lingkungan keluarga. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!