31.6 C
Jakarta

UMJT Madiun Dorong Dosen Tembus Jurnal Scopus

Baca Juga:

MADIUN, MENARA62.COM — Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun terus mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah dosen di jurnal internasional bereputasi. Upaya itu dilakukan melalui workshop strategi publikasi jurnal terindeks Scopus yang menghadirkan akademisi berpengalaman dari Universitas Muhammadiyah Buton (UM Buton).

 

Workshop bertema “Strategi Memilih Jurnal Target Publikasi Scopus untuk Dosen UMJT” tersebut digelar Jumat (3/9). Narasumber yang dihadirkan adalah dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UM Buton, Dr. Herman Lawelai, S.IP., M.IP.

 

Kegiatan diikuti dosen dan pejabat struktural UMJT serta sejumlah dosen dari UM Buton.

 

Wakil Rektor I UMJT, Dr. Fajar Junaedi, mengatakan workshop tersebut menjadi bagian dari upaya kampus meningkatkan publikasi dosen pada jurnal yang terindeks Scopus.

 

Menurut dia, UMJT tidak hanya mendorong dosen menghasilkan artikel berkualitas, tetapi juga memahami strategi memilih jurnal target yang sesuai dan memiliki kredibilitas.

 

“Publikasi di jurnal terindeks Scopus bukan hanya tentang menulis artikel yang berkualitas, tetapi juga tentang memilih jurnal target yang tepat, memahami scope jurnal, menilai reputasi dan kredibilitasnya, serta menyusun strategi publikasi yang realistis,” kata Fajar.

 

Ia berharap pengalaman Herman Lawelai dapat menjadi inspirasi bagi dosen UMJT untuk meningkatkan rekam jejak publikasi internasional.

 

“Kami berharap dosen UMJT bisa menyusul keberhasilan Bang Herman untuk meraih indeks yang tinggi dan publikasi yang banyak. Semoga kolaborasi UMJT dan UM Buton bisa berkelanjutan,” ujarnya.

 

Belajar Memetakan Jurnal Sesuai Kepakaran

 

Dalam workshop tersebut, Herman membagikan pengalaman dan strategi publikasi berdasarkan rekam jejaknya yang telah memiliki 15 tulisan di jurnal terindeks Scopus serta 117 naskah di Google Scholar.

 

Salah satu materi utama adalah pemetaan jurnal berdasarkan kesesuaian dengan bidang kajian dan kepakaran dosen. Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai alat pencarian jurnal, termasuk jurnal finder dan database lainnya.

 

Herman menjelaskan, pemetaan jurnal dapat dilakukan berdasarkan rumpun ilmu dan homebase kepakaran yang ada di UMJT.

 

Pada rumpun Sains dan Teknologi, misalnya, bidang yang dapat dikembangkan meliputi rekayasa teknologi, model risiko, dan keberlanjutan.

 

Sementara bidang Ilmu Kesehatan dapat diarahkan pada asuhan klinis, kebijakan, serta manajemen layanan.

 

“Untuk Sosial, Humaniora dan Pendidikan fokus kepakarannya di perilaku, regulasi, modal sosial serta pedagogi,” jelas Herman.

 

Menurut Herman, pemilihan jurnal setidaknya harus mempertimbangkan empat hal, yakni kualitas artikel, kesesuaian scope, reputasi jurnal, dan strategi publikasi yang realistis.

 

Ia mengingatkan dosen agar tidak tergiur jurnal yang menjanjikan proses publikasi terlalu cepat.

 

“Kredibilitas penerbit ini diakui atau tidak, lalu harus punya indeksasi dan rekam jejak editorial. Bukan hari ini submit bulan depan dipublish. Itu sudah predator,” tegasnya.

 

Cara Memastikan Jurnal Scopus Tanpa Biaya

 

Salah satu materi yang mendapat perhatian adalah strategi menemukan jurnal Scopus yang tidak membebankan biaya publikasi kepada penulis.

 

Herman mengingatkan dosen agar tidak hanya mengandalkan daftar atau label “free publication”. Status indeksasi dan biaya publikasi harus diverifikasi melalui sumber resmi.

 

Langkah pertama adalah melakukan penelusuran melalui Scopus Sources berdasarkan bidang, judul jurnal, atau ISSN. Dosen juga perlu memastikan jurnal tersebut masih aktif dan cakupan tahun indeksasinya sesuai.

 

Kedua, pencarian dapat disaring melalui DOAJ (Directory of Open Access Journals) untuk menemukan jurnal open access yang mencantumkan informasi tanpa publication fees atau tanpa biaya pemrosesan artikel.

 

Ketiga, calon penulis perlu memeriksa langsung situs resmi jurnal, terutama bagian author guideline, APC, publication fees, page charge, dan kebijakan open access.

 

“Keempat melakukan konfirmasi sebelum submit. Apabila ada informasi tidak tegas saat konfirmasi, kirim email ke pihak editorial jurnal serta simpan jawaban tertulis sebagai bukti,” kata Herman.

 

Ia juga menjelaskan tiga model biaya publikasi jurnal bereputasi yang perlu dipahami dosen.

 

Pertama, Diamond Open Access, yakni jurnal yang tidak mengenakan APC dan artikelnya dapat dibaca secara terbuka. Kedua, Subscription Journal, yang umumnya tidak membebankan APC kepada penulis, tetapi artikel tidak otomatis tersedia secara terbuka.

 

Ketiga, Hybrid Journal, yakni jurnal yang memberikan pilihan open access dengan konsekuensi adanya biaya publikasi atau APC.

 

Waspadai Jurnal Predator

 

Selain strategi menemukan jurnal bereputasi, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai karakteristik jurnal predator.

 

Herman mengingatkan, tampilan situs yang profesional atau klaim indeksasi tertentu belum cukup untuk membuktikan sebuah jurnal memiliki proses editorial yang kredibel.

 

“Jangan sampai terkecoh dengan tampilan profesional jurnal atau klaim indeksasi yang bukan merupakan bukti proses editorial kredibel,” ujarnya.

 

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain undangan submit melalui email secara agresif, terutama jika materi yang ditawarkan berada di luar bidang keahlian penulis.

 

Ciri lainnya adalah adanya janji artikel diterima atau accept dalam waktu sangat singkat, proses peer review hanya beberapa hari, serta informasi APC yang tidak jelas atau baru muncul setelah artikel dinyatakan diterima.

 

Dosen juga perlu memeriksa identitas jurnal, termasuk ISSN, alamat, editor, dan penerbit. Informasi tersebut harus dapat diverifikasi secara jelas.

 

Dari sisi indeksasi, penggunaan logo lembaga pengindeks tanpa bukti resmi juga patut dicurigai. Demikian pula jurnal yang tidak memiliki kebijakan jelas mengenai koreksi maupun retraction.

 

Publikasi Internasional Jadi Penguat Reputasi

 

Herman menilai transformasi UMMAD menjadi UMJT merupakan momentum strategis untuk memperkuat branding universitas melalui publikasi ilmiah internasional bereputasi.

 

Menurut dia, publikasi jurnal internasional tidak hanya berdampak pada rekam jejak individual dosen, tetapi juga dapat memperkuat reputasi program studi dan universitas, termasuk dalam aspek akreditasi.

 

“Kenapa bereputasi internasional? Karena dapat mengangkat reputasi akademik kepada dosen, kemudian Prodi melalui akreditasi juga kepada universitas,” jelas Herman.

 

Ia menambahkan, ketika sebuah universitas masuk dalam pemeringkatan internasional, kualitas publikasi tidak semata-mata dilihat dari jumlah paper yang terindeks Scopus.

 

Aspek yang semakin penting adalah seberapa besar publikasi tersebut mendapat pengakuan melalui sitasi dari peneliti internasional.

 

“Kalau sudah masuk perangkingan internasional yang dilihat jumlah sitasi jurnal bereputasi yang dirujuk. Jumlahnya, bukan lagi jumlah paper terindeks Scopus, tapi pengakuan atau rekognisi itu disitasi oleh internasional,” pungkasnya. (MJK/*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!