31.6 C
Jakarta

Lazismu Himpun Rp6 Miliar, Layani 7.225 Penyintas Gempa NTT

Baca Juga:

JAKARTA  MENARA62.COM — Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) menghimpun dana lebih dari Rp6 miliar untuk mendukung penanganan korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga 3 September 2026, dana yang terkumpul mencapai Rp6.099.163.820.

 

Dari jumlah tersebut, sebesar Rp3.455.958.814 telah disalurkan untuk mendukung aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah bagi masyarakat terdampak gempa.

 

Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 berdampak pada tujuh kabupaten. Muhammadiyah merespons bencana tersebut dengan mengerahkan sumber daya melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), bersama Lazismu dan berbagai unsur Muhammadiyah lainnya.

 

Penggalangan dana juga diperkuat melalui instruksi Pimpinan Pusat Muhammadiyah kepada seluruh masjid untuk menggelar Infak Salat Jumat bagi korban gempa NTT pada Jumat, 21 Agustus 2026.

 

Muhammadiyah Kerahkan Tim Medis Standar WHO

 

Respons kemanusiaan Muhammadiyah mencakup layanan kesehatan, nonkesehatan, hingga logistik. Salah satu kekuatan utama berada pada sektor kesehatan melalui Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed dan EMT Mobile.

 

Sebanyak 50 personel EMT Type-1 Fixed dikerahkan untuk mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa. Tim medis dengan standar WHO tersebut bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.

 

Selain rumah sakit lapangan, EMT Mobile bergerak menuju lokasi-lokasi pengungsian yang sulit dijangkau. Tim ini berasal dari sejumlah Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di berbagai daerah di Indonesia.

 

Hingga 3 September 2026, layanan kesehatan Muhammadiyah tercatat telah menangani 7.225 penyintas. Berdasarkan kelompok usia, pasien yang ditangani terdiri atas 85 bayi, 229 balita, 266 anak-anak, 150 remaja, 2.173 dewasa, 22 ibu hamil, dan 799 lansia.

 

Data layanan kesehatan juga mencatat 2.215 penyintas perempuan dan 1.487 penyintas laki-laki.

 

Sejumlah diagnosis paling banyak ditemukan di rumah sakit lapangan. Di antaranya 437 penyintas mengalami infeksi saluran pernapasan, 372 mengalami nyeri otot dan pegal-pegal, 233 mengalami hipertensi, 186 mengalami keluhan atau nyeri di sekitar perut, serta 153 mengalami sakit kepala dan nyeri leher hingga tengkuk.

 

Tujuh Pos Koordinasi Dibangun

 

Pada tahap awal respons, Muhammadiyah mendirikan Pos Koordinasi Wilayah di Klinik Muhammadiyah Ende, Kabupaten Ende. Pos tersebut menjadi pusat perencanaan dan evaluasi aksi layanan kemanusiaan di wilayah terdampak.

 

Hingga kini, Muhammadiyah telah mendirikan 7 Pos Koordinasi Daerah di tujuh kabupaten serta 10 Pos Pelayanan di wilayah terdampak.

 

Respons kemanusiaan tersebut dijalankan melalui tiga klaster prioritas, yakni kesehatan, nonkesehatan, dan logistik.

 

Pada klaster nonkesehatan, dapur umum Muhammadiyah telah melayani 1.750 jiwa. Selain itu, relawan mendirikan fasilitas sanitasi dan air bersih di dua titik serta memberikan layanan psikososial kepada 1.773 jiwa.

 

Sementara pada sektor logistik, bantuan yang disalurkan meliputi mobil dapur umum, mobil taktis, 500 paket family kit, 600 paket school kit, 1.440 kaleng Rendangmu, serta terpal sepanjang 500 meter.

 

Dukungan obat-obatan dan kebutuhan medis juga diberikan oleh tim EMT Mobile dari Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang bertugas di lapangan.

 

Lazismu Pastikan Bantuan Berlanjut

 

Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, menyampaikan apresiasi kepada para relawan, donatur, dan jamaah Salat Jumat yang telah mendukung respons kemanusiaan di NTT.

 

“Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan Muhammadiyah di lapangan atas kerja-kerja kemanusiaan dan tentu terima kasih kepada donatur dan jamaah salat Jumat atas kepercayaannya sehingga aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah kepada penyintas bencana di NTT dapat terus dilanjutkan,” kata Barry, Jumat (4/9/2026).

 

Menurut Barry, penyaluran dana donasi masih terus dilakukan. Bantuan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan darurat, tetapi juga mendukung tahapan pemulihan hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.

 

Lazismu memastikan program Indonesia Siaga di NTT akan terus dipantau dan dievaluasi agar dana masyarakat dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membantu penyintas membangun kembali kehidupan mereka setelah bencana.

 

“Respons tidak berhenti pada fase darurat. Dukungan akan dilanjutkan hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi untuk membangun ketangguhan masyarakat,” demikian keterangan Lazismu.

 

Masyarakat yang ingin mendukung aksi kemanusiaan Muhammadiyah bagi penyintas gempa NTT dapat menyalurkan donasi melalui kanal resmi Lazismu. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!