JAKARTA, MENARA62.COM – Untuk pertama kalinya, Festival Tutur Pertiwi 2026 diselenggarakan dengan melibatkan peserta dari 10 negara, yaitu Mesir, Yaman, Malaysia, Sudan, Pakistan, Korea Selatan, Madagaskar, Panama, Nigeria, dan Mali. Mengusung slogan “Menuturkan Indonesia pada Dunia”, festival ini menjadi ruang bagi warga negara asing untuk mengenal dan memperkenalkan Indonesia melalui bahasa Indonesia dan karya kreatif.
Festival yang berlangsung sepanjang Agustus 2026 ini mengajak peserta membuat video berbahasa Indonesia berdasarkan empat topik, yaitu alasan mencintai Indonesia dan bahasa Indonesia; ulasan tentang nasi Padang; cerita mengenai destinasi wisata Bukittinggi dan Puncak Lawang; serta pandangan mengenai kekayaan bahasa daerah di Indonesia.
Salah satu keunikan Festival Tutur Pertiwi adalah peserta wajib menggunakan bahasa Indonesia dalam video dan menyertakan terjemahan dalam bahasa Inggris atau bahasa negara asalnya. Ketentuan tersebut dirancang agar karya yang dibuat tidak hanya menjadi sarana peserta berlatih bahasa Indonesia, tetapi juga dapat dipahami oleh pengikut mereka yang belum menguasai bahasa Indonesia. Dengan demikian, setiap karya sekaligus menjadi media untuk memperkenalkan Indonesia kepada audiens di berbagai negara.
Dari rangkaian kompetisi tersebut, Andry Njakatiana Anthonio dari Madagaskar meraih Juara 1, Mitzel Libania Rodríguez Lino dari Panama sebagai Juara 2, dan Han Seungik dari Korea Selatan sebagai Juara Favorit.
Andry mengangkat kisah kecintaannya terhadap Indonesia dan bahasa Indonesia yang bermula sejak kecil ketika sering mendengar orang tuanya memutar lagu Indonesia, termasuk lagu Betharia Sonata. Rasa penasaran terhadap makna lagu kemudian membawanya mempelajari bahasa Indonesia. Ia melihat bahasa Indonesia sebagai bahasa yang ramah dan santun serta mengenal romantisme, keberagaman, dan kekayaan Indonesia melalui karya-karya berbahasa Indonesia.
Mitzel menceritakan perjalanannya mengenal Indonesia dari Panama. Awalnya ia tidak mengenal Indonesia maupun bahasa Indonesia. Setelah belajar dan mencari tahu lebih jauh, ia memperoleh kesempatan mendapatkan beasiswa ke Indonesia. Bahasa Indonesia kemudian menjadi bagian dari perjalanannya mengenal kehidupan, masyarakat, dan keberagaman Indonesia secara langsung.
Sementara itu, Han mengangkat kekayaan bahasa daerah Indonesia dan peran bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Melalui karyanya, ia mengajak masyarakat untuk menyadari, menjaga, dan melestarikan kekayaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah agar tidak hilang.
Festival Tutur Pertiwi digagas oleh Devi Virhana, Pendiri BIPA Pertiwi sekaligus Festival Director dan praktisi komunikasi. Gagasan tersebut berangkat dari keinginannya untuk mentransfer ilmu komunikasi kepada warga negara asing, sehingga mereka tidak hanya mampu berbahasa Indonesia, tetapi juga dapat menggunakan bahasa tersebut untuk berkarya sebagai konten kreator, presenter, pembawa acara, bahkan reporter.
“Bahasa akan terlihat ketika digunakan dan dipublikasikan. Apalagi sekarang kita berada di era digital. Saya ingin warga negara asing tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi berani menggunakan bahasa itu untuk membuat karya dan memperkenalkan Indonesia kepada dunia,” ujar Devi.
Berbeda dengan kompetisi pada umumnya, Festival Tutur Pertiwi tidak memberikan hadiah berupa uang tunai atau uang pembinaan. Seluruh peserta mendapatkan pembekalan dan apresiasi yang berorientasi pada pengembangan kemampuan, antara lain sertifikat, buku pembelajaran bahasa Indonesia dalam format digital, serta pelatihan Master of Ceremony (MC) dan konten kreator pemula yang akan diberikan langsung oleh Devi Virhana.
Peserta akan dibekali kemampuan dasar menjadi pembawa acara serta tahapan membuat konten, mulai dari menemukan ide, menyusun naskah, berbicara di depan kamera hingga produksi video. Peserta juga akan mendapatkan informasi dan mentoring terkait peluang beasiswa ke Indonesia.
Sementara itu, para pemenang mendapatkan apresiasi tambahan berupa voucher menginap, kesempatan publikasi di media daring Indonesia, serta dukungan produksi dan penyuntingan konten.
Festival Tutur Pertiwi mendapat dukungan dari Hotel Mulia Syariah Bukittinggi, Hotel Raudah Bukittinggi, dan Movex. Proses penilaian dilakukan oleh Mariam Ashraf, konten kreator asal Mesir; Rana Setiawan, editor dan jurnalis senior; serta Teja Kurniawan, Co-Founder BIPA Pertiwi sekaligus konten kreator.
“Saya sangat bersyukur festival perdana ini dapat diikuti peserta dari 10 negara dalam waktu yang relatif singkat. Ke depan, saya berharap Festival Tutur Pertiwi terus berkembang dan semakin banyak warga negara asing yang menjadi konten kreator yang produktif menggunakan bahasa Indonesia. Semoga bahasa Indonesia semakin banyak digunakan untuk menuturkan Indonesia kepada dunia,” kata Devi.

