29 C
Jakarta

Bawaslu Solo Ajak Siswa SMK Batik 1 Naik Level Berdemokrasi

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Surakarta mengajak siswa SMK Batik 1 Surakarta untuk melek demokrasi, aktif berorganisasi, dan memahami pentingnya pengawasan partisipatif sejak bangku sekolah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang cerdas, kritis, dan siap menjadi pemimpin masa depan.

 

Ajakan tersebut disampaikan Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat (P2H) Bawaslu Kota Surakarta, Agus Sulistyo, dalam kegiatan pembekalan Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) di aula SMK Batik 1 Surakarta, Sabtu (10/10/2026).

 

Kegiatan yang diikuti perwakilan siswa dari masing-masing kelas itu menjadi ruang pembelajaran untuk mengembangkan potensi diri, meningkatkan keterampilan berorganisasi, sekaligus mengenalkan praktik demokrasi di lingkungan sekolah.

 

Agus menegaskan, generasi muda perlu mempersiapkan kompetensi sejak dini agar mampu menghadapi persaingan masa depan yang semakin ketat. Selain kemampuan akademik, keterampilan membangun jejaring, berkomunikasi, dan menguasai teknologi juga menjadi bekal penting.

 

“Dunia persaingan ke depan diprediksikan akan sangat kompetitif. Siapa pun yang tidak mempunyai kompetensi untuk bersaing, tidak mampu membangun jejaring, dan lemah dalam penguasaan teknologi, maka akan tergulung ganasnya ombak perkembangan zaman,” ungkap Agus.

 

Menurutnya, organisasi sekolah dapat menjadi tempat bagi siswa untuk melatih berbagai keterampilan tersebut. Melalui kegiatan organisasi, pelajar belajar mengenali potensi diri, mengembangkan kreativitas, membangun kerja sama, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

 

Pengalaman berorganisasi juga melatih kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving) dan membangun kepemimpinan. Karena itu, organisasi tidak semestinya dipandang hanya sebagai kegiatan tambahan di luar pembelajaran, tetapi sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dan kompetensi siswa.

 

Belajar Demokrasi Tak Harus Menunggu Pemilu

 

Dalam pembekalan tersebut, Agus juga menekankan bahwa pendidikan demokrasi tidak harus menunggu seseorang memiliki hak pilih atau terlibat dalam pemilihan umum.

 

Menurutnya, nilai-nilai demokrasi dapat dipraktikkan melalui kebiasaan sederhana di sekolah, seperti menyampaikan pendapat dengan santun, bermusyawarah ketika menghadapi perbedaan, menghormati pilihan orang lain, dan menerima keputusan bersama dengan penuh tanggung jawab.

 

Demokrasi, lanjutnya, bukan semata-mata tentang siapa yang menang atau kalah dalam pemilihan. Lebih dari itu, demokrasi menyangkut proses yang adil, keterlibatan setiap pihak, serta penghormatan terhadap hak dan pendapat orang lain.

 

Siswa juga diajak memahami persamaan dan perbedaan antara pemilihan ketua OSIS dan pemilu di Indonesia. Pembelajaran mencakup perencanaan, tahapan penyelenggaraan, kepatuhan terhadap aturan, hingga pentingnya partisipasi pemilih.

 

Melalui pemahaman tersebut, pemilihan OSIS diharapkan tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan sekolah, tetapi juga menjadi sarana praktik demokrasi secara langsung.

 

Proses pemilihan yang tertib, jujur, adil, dan melibatkan warga sekolah menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan, bukan hanya hasil akhir berupa terpilihnya seorang ketua OSIS.

 

Agus juga mendorong siswa mengenal pengawasan partisipatif sebagai bentuk keterlibatan masyarakat dalam menjaga kualitas pemilu. Semangat tersebut dapat mulai ditanamkan melalui kepedulian terhadap proses pemilihan di lingkungan sekolah.

 

Bawaslu dan Sekolah Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan

 

Guru pendamping sekaligus penanggung jawab kegiatan, Maylinda, mengatakan pembekalan bersama Bawaslu penting untuk memperluas wawasan siswa mengenai pemilu, pemilihan, dan praktik demokrasi.

 

Menurutnya, pemahaman tentang tahapan pemilu dapat menjadi bekal bagi siswa ketika merancang pemilihan OSIS yang lebih terencana dan demokratis.

 

“Siswa dibekali pengetahuan tentang pemilu dan pemilihan, termasuk bagaimana tahapan pemilu dilaksanakan. Harapannya, mereka juga memahami bagaimana merencanakan pemilihan OSIS yang baik, yang praktiknya akan menyerupai penyelenggaraan pemilu sesungguhnya di Indonesia,” ujar Maylinda.

 

Ia berharap kerja sama antara SMK Batik 1 Surakarta dan Bawaslu Kota Surakarta dapat terus dikembangkan agar pendidikan demokrasi di sekolah semakin bermakna.

 

“Melalui kerja sama dengan Bawaslu, harapannya ke depan kita dapat berkolaborasi lebih bermakna dalam menyiapkan generasi calon-calon pemimpin bangsa pada masa yang akan datang,” tambahnya.

 

Pembekalan ini sekaligus menegaskan bahwa persiapan menjadi pemimpin tidak cukup hanya melalui penguasaan teori. Pelajar juga perlu mendapatkan pengalaman nyata dalam berorganisasi, berdialog, menyelesaikan persoalan, dan menjalankan tanggung jawab bersama.

 

Agus berharap siswa SMK Batik 1 Surakarta mampu menjadi generasi yang tidak hanya cerdas dalam menentukan pilihan, tetapi juga peduli terhadap proses demokrasi.

 

“Saatnya pelajar naik level, dimulai dari SMK Batik 1 ini. Bukan sekadar aktif berorganisasi atau ikut memilih, tetapi juga belajar memimpin, menghargai perbedaan, dan mengambil bagian dalam membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

 

Melalui kegiatan ini, semangat demokrasi diharapkan tumbuh dari lingkungan sekolah dan menjadi bekal bagi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi pemilih pada masa mendatang, tetapi juga turut menjaga proses demokrasi agar berlangsung secara jujur, adil, dan bertanggung jawab. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!