SOLO, MENARA62.COM — Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) di Surakarta tidak hanya menjadi ruang konsolidasi ribuan kader perempuan muda. Di tengah padatnya agenda organisasi, kebutuhan anak-anak yang datang bersama orangtuanya juga mendapat perhatian.
Melalui layanan Educare atau Taman Asuh Anak Nasyiatul ‘Aisyiyah, sebanyak 17 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id ikut mendampingi anak-anak selama rangkaian Tanwir III dan Muktamar ke-15 NA, 6-8 Agustus 2026.
Layanan Educare ditempatkan di sejumlah lokasi yang menyesuaikan agenda utama Muktamar, antara lain kawasan Hotel Dwangsa, Hotel Lorin, dan Edutorium UMS.
Ketua Program Studi PG PAUD UMS, Dr. Junita Dwi Wardhani, M.Ed., menjadi penanggung jawab kerja sama antara PG PAUD UMS dengan panitia Tanwir dan Muktamar Nasional Nasyiatul ‘Aisyiyah ke-15, khususnya seksi Educare.
Sementara itu, Dr. Sri Slamet, M.Hum., M.Pd., bertugas sebagai koordinator pelaksana dan pendamping dari PG PAUD UMS selama kegiatan berlangsung.
Menurut Sri Slamet, keterlibatan mahasiswa PG PAUD UMS bukan sekadar membantu orangtua menjaga anak. Para mahasiswa membawa kompetensi yang selama ini dipelajari di bangku kuliah untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan edukatif.
“Karena itu, taman asuh hadir sebagai mitra keluarga agar anak tetap memperoleh rasa aman dan perhatian ketika orangtua mengikuti kegiatan organisasi,” ujar Sri Slamet, Sabtu (8/8/2026).
Bukan Sekadar Tempat Penitipan Anak
Muktamar ke-15 NA berlangsung di Surakarta pada 7-8 Agustus 2026 setelah Tanwir III pada 6 Agustus. Agenda nasional tersebut mengusung tema “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”.
Pembukaan Muktamar digelar di Edutorium UMS pada Jumat (7/8/2026). Lebih dari 6.700 peserta dan penggembira disebut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Di tengah padatnya agenda, panitia menyiapkan fasilitas Educare untuk sekitar 65 anak, baik di hotel maupun Edutorium UMS.
Sri Slamet mengatakan konsep Educare dirancang tidak sekadar menjadi tempat penitipan anak sementara. Layanan tersebut menempatkan keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan kebutuhan perkembangan anak sebagai perhatian utama.
“Educare sejalan dengan konsep Taman Asuh Anak Nasyiatul Aisyiyah yang tidak semata-mata berorientasi pada aspek kognitif, tetapi menempatkan martabat dan kesejahteraan anak secara holistik sebagai perhatian utama,” tuturnya.
Menurut dia, anak harus dipandang sebagai subjek yang memiliki hak untuk mendapatkan pengasuhan yang aman sekaligus kesempatan tumbuh, berkembang, dan bermain sesuai usianya.
Namun, taman asuh temporer tersebut tetap memiliki batas fungsi. Educare tidak dimaksudkan menggantikan keluarga, melainkan menjadi mitra sementara bagi orangtua selama mengikuti agenda organisasi.
Anak Tetap Bermain dan Belajar
Agar anak tidak merasa sekadar “dititipkan”, aktivitas di Educare dirancang terstruktur tetapi tetap menyenangkan.
Beragam kegiatan disiapkan, mulai dari permainan perkenalan, snack time, free play, storytelling, senam, kegiatan seni, hingga bermain bebas.
Pada Sabtu (8/8/2026), misalnya, anak-anak mengikuti kegiatan seni menggambar sebelum melanjutkan aktivitas free play.
Rancangan kegiatan juga mencakup circle time, music and movement, dan outside play. Aktivitas tersebut disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak sekaligus kondisi agenda organisasi yang berlangsung.
“Artinya, pengasuhan diarahkan agar anak tetap memiliki pengalaman bermain dan belajar yang kaya ketika orangtua menjalankan agenda organisasi,” kata Sri Slamet.
Model tersebut, lanjut dia, dirancang fleksibel dan responsif. Pendamping berperan sebagai mitra sementara keluarga, bukan menggantikan peran orangtua.
Jadi Laboratorium Pembelajaran Mahasiswa
Bagi 17 mahasiswa PG PAUD UMS, keterlibatan dalam Educare juga menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang selama ini dipelajari di kampus.
Sebelum bertugas, para mahasiswa memperoleh pembekalan mengenai kurikulum taman asuh, aktivitas anak, standar operasional prosedur (SOP), serta teknis pelaksanaan.
Dalam rapat persiapan pada 25 Juli 2026, mahasiswa juga diarahkan mengikuti jadwal dan panduan panitia. Rasio pendampingan dirancang sekitar dua hingga tiga anak untuk setiap mahasiswa sesuai kebutuhan layanan.
Sri Slamet menyebut pengalaman tersebut sebagai laboratorium pembelajaran nyata bagi calon pendidik anak usia dini.
“Pengetahuan tentang tumbuh kembang, bermain, komunikasi dengan anak, manajemen kelas, keamanan, dan pengasuhan yang selama ini dipelajari di bangku kuliah diuji langsung dalam situasi autentik,” ujarnya.
Mahasiswa, kata dia, berhadapan langsung dengan anak-anak yang memiliki usia, karakter, kebiasaan, dan kebutuhan berbeda.
Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan calon pendidik agar tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu merespons situasi nyata.
Ketika Ibu Membahas Masa Depan, Anak Tetap Bertumbuh
Kolaborasi PG PAUD UMS dan Nasyiatul ‘Aisyiyah tersebut menunjukkan bahwa agenda organisasi dan kebutuhan anak dapat berjalan beriringan.
Ketika para kader NA mengikuti persidangan, musyawarah, dan berbagai agenda Muktamar, anak-anak tetap mendapatkan ruang untuk bermain, belajar, berinteraksi, dan memperoleh pendampingan.
Bagi Sri Slamet, di situlah makna penting Educare dalam Muktamar ke-15 NA.
“Muktamar tetap menjadi ruang besar untuk membicarakan masa depan perempuan muda berkemajuan, tetapi pada saat bersamaan kebutuhan anak tidak diletakkan di pinggir agenda,” katanya.
Di ruang Educare, mahasiswa PG PAUD UMS menemani anak bermain, bercerita, bergerak, menggambar, makan, hingga beradaptasi dengan lingkungan baru.
Sementara itu, di ruang-ruang persidangan Muktamar, para kader Nasyiatul ‘Aisyiyah membicarakan dan merumuskan masa depan organisasi.
Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa membangun masa depan perempuan muda juga perlu berjalan beriringan dengan memastikan anak-anak tetap tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh perhatian. (*)

