SOLO, MENARA62.COM – Enam santri Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Muhammadiyah Al-Firdaus Kartasura berhasil memperoleh sanad Qira’at ‘Āṣim riwayat Ḥafṣ dan Syu‘bah setelah mengikuti pembinaan tahsin, seleksi bacaan, dan dauroh intensif. Capaian ini menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi transmisi keilmuan Al-Qur’an yang bersambung melalui jalur guru dan murid.
Program tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id. Pembinaan dilakukan secara bertahap untuk memastikan ketepatan bacaan sekaligus kesiapan santri mendalami ilmu qira’at.
Dosen IQT UMS, Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., yang membimbing sekaligus memberikan sanad kepada para santri, menjelaskan bahwa sanad merupakan bagian penting dalam tradisi keilmuan Al-Qur’an. Melalui sanad, bacaan seorang murid terhubung dengan jalur periwayatan yang diterima melalui para guru.
Ia mengungkapkan, sanad yang diberikan kepada enam santri tersebut berada pada urutan ke-30 dalam jalur sanad yang dimilikinya.
“Saya yang mengajar sekaligus memberikan sanad. Kebetulan saya sudah memiliki sanad qiraah urutan ke-29, sehingga santri yang saya beri sanad ini menjadi urutan ke-30,” jelasnya, Senin (12/10/2026).
Pembinaan Dimulai dari Tahsin
Sebelum mengikuti pembelajaran qira’at secara intensif, para santri menjalani pembinaan tahsin untuk memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an. Materi utama meliputi makharij al-huruf, yakni tempat keluarnya huruf, dan sifat al-huruf, yaitu karakteristik setiap huruf ketika dilafalkan.
Pembinaan tahsin berlangsung dalam tiga kali pertemuan melalui praktik membaca secara langsung, koreksi individual, pengulangan bacaan, dan metode talaqqi. Tahap ini sekaligus menjadi sarana untuk memetakan kemampuan awal setiap santri.
Kegiatan tersebut turut melibatkan Ustaz Faris dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) serta mahasiswa IQT UMS. Para mahasiswa mendampingi santri yang masih membutuhkan penguatan bacaan agar pembinaan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Setelah tahap dasar, santri mengikuti seleksi yang mencakup ketepatan makhraj, penerapan sifat huruf, kelancaran membaca, penguasaan kaidah tajwid, dan kesiapan mengikuti dauroh qira’at.
Santri yang memenuhi kriteria melanjutkan ke pembelajaran intensif. Sementara itu, santri yang belum mencapai standar tetap memperoleh pendampingan tahsin dari mahasiswa IQT UMS.
Dauroh 30 Jam Dalami Riwayat Hafs dan Syu’bah
Tahap inti kegiatan berupa Dauroh Qira’at ‘Āṣim riwayat Ḥafṣ dan Syu‘bah yang berlangsung intensif selama sekitar 30 jam. Pembelajaran menggunakan metode talaqqi dan musyafahah, yaitu santri membaca Al-Qur’an secara langsung di hadapan pengajar untuk mendapatkan koreksi dan penyempurnaan bacaan.
Dalam kegiatan tersebut, santri mempelajari bacaan Imam ‘Āṣim melalui dua perawi utamanya, yakni Ḥafṣ dan Syu‘bah. Pengajar menjelaskan kaidah qira’at yang berlaku, terutama pada ayat atau kata yang memiliki perbedaan bacaan di antara kedua riwayat tersebut.
Pembelajaran riwayat Syu‘bah menjadi salah satu aspek penting dalam dauroh ini. Jika riwayat Ḥafṣ lebih umum digunakan dalam pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia, riwayat Syu‘bah relatif lebih jarang dipelajari.
Pengenalan kedua riwayat tersebut diharapkan memperluas wawasan santri terhadap khazanah ilmu qira’at. Santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga berlatih menerapkan kaidah melalui praktik lisan, koreksi individual, dan pengulangan bacaan.
Proses tersebut diperlukan untuk menjaga ketepatan makhraj, panjang-pendek bacaan, karakter pelafalan, serta penerapan kaidah qira’at sesuai riwayat yang dipelajari.
Sanad Jadi Bagian dari Kaderisasi Al-Qur’an
Keberhasilan enam santri memperoleh sanad tidak hanya menjadi capaian pembelajaran individual, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Al-Qur’an. Dalam tradisi ini, ketelitian bacaan dan hubungan keilmuan antara guru dan murid menjadi unsur penting.
Para santri yang telah memperoleh sanad diharapkan dapat berkontribusi dalam membantu pembelajaran Al-Qur’an bagi santri junior. Dengan begitu, ilmu yang diperoleh dapat diteruskan kepada generasi berikutnya sekaligus mendukung kaderisasi di lingkungan pesantren.
Di sisi lain, pembinaan bagi santri yang belum mengikuti dauroh tetap berlanjut melalui penguatan makharij al-huruf, sifat al-huruf, tajwid, dan kelancaran membaca. Pendekatan ini memastikan setiap santri tetap mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan dan tingkat kemampuannya.
Keterlibatan dosen dan mahasiswa IQT UMS dalam program tersebut menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pendidikan Al-Qur’an di masyarakat. Proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang akademik, tetapi juga diwujudkan melalui pendampingan langsung di lingkungan pesantren.
Melalui kolaborasi tersebut, penguatan kompetensi membaca Al-Qur’an berjalan beriringan dengan upaya melestarikan khazanah qira’at dan menyiapkan generasi yang mampu meneruskan tradisi keilmuan Al-Qur’an secara bertanggung jawab. (*)
