35 C
Jakarta

UMS Hadirkan Pakar Bangladesh, Latih ‘Aisyiyah Gatak Olah Sambiloto

Baca Juga:

SUKOHARJO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memberdayakan kader ‘Aisyiyah di Kecamatan Gatak, Sukoharjo, melalui pelatihan budidaya dan pembuatan obat herbal berbahan sambiloto. Menghadirkan pakar kefarmasian asal Bangladesh, kegiatan ini membekali masyarakat dengan pengetahuan ilmiah tentang potensi tanaman obat, dosis, hingga risiko penggunaannya bagi kesehatan.

 

Pelatihan bertajuk Pelatihan Pembuatan Obat Tradisional untuk Anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak tersebut digelar di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Gatak, Sukoharjo, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini diselenggarakan melalui Direktorat Riset, Publikasi, Pengabdian, dan Sentra Kekayaan Intelektual (DRPPS) UMS sebagai bagian dari program P2M: Dosen-Tendik Berkontribusi atau Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan.

 

Program yang diketuai Arga Seta Asmara Sakti, S.T., M.T., itu melibatkan jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gatak, PCA Gatak, serta perwakilan dari 14 pimpinan ranting ‘Aisyiyah se-Kecamatan Gatak.

 

Melalui kegiatan tersebut, UMS tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga mendorong masyarakat menerapkan ilmu secara berkelanjutan, mulai dari membudidayakan tanaman obat keluarga (TOGA) hingga memahami cara pemanfaatannya secara bertanggung jawab.

 

“Pendekatan berbasis pengembangan Persyarikatan ini menjadi wujud sinergi perguruan tinggi dengan PCM, PCA, dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dalam memperkuat kapasitas masyarakat,” kata Arga Seta, Selasa (13/10/2026).

 

Pakar Bangladesh Jelaskan Potensi dan Risiko Sambiloto

 

Untuk memperluas wawasan peserta, UMS menghadirkan Associate Professor Dr. Md. Sanower Hossain dari Bangladesh yang memiliki keahlian di bidang kefarmasian. Ia memaparkan pengenalan tanaman sambiloto, potensi pemanfaatannya berdasarkan penelitian, teknik budidaya, serta prinsip keamanan dalam penggunaan obat herbal.

 

Menurut Sanower Hossain, tanaman herbal merupakan bagian dari tradisi kesehatan masyarakat yang perlu dipahami melalui pendekatan ilmiah. Pemanfaatannya tidak cukup hanya berdasarkan kebiasaan turun-temurun, tetapi harus mempertimbangkan bukti penelitian, ketepatan dosis, kondisi pengguna, dan kemungkinan interaksi dengan obat medis.

 

Salah satu tanaman yang dibahas adalah sambiloto (Andrographis paniculata), tanaman yang dikenal memiliki rasa sangat pahit. Sambiloto mengandung berbagai senyawa alami, termasuk andrografolida yang menjadi salah satu senyawa aktif utamanya.

 

Berdasarkan materi pelatihan, sambiloto telah diteliti untuk membantu meredakan sejumlah gejala, terutama pilek dan sakit tenggorokan. Meski demikian, kekuatan bukti ilmiah berbeda-beda untuk setiap klaim manfaat. Tanaman ini juga tidak dapat diposisikan sebagai pengganti pengobatan medis, terutama untuk penyakit berat maupun penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

 

Sanower mengingatkan bahwa bahan alami tidak selalu berarti aman. Penggunaan herbal secara berlebihan, kesalahan mengenali tanaman, serta interaksi dengan obat dokter dapat menimbulkan risiko kesehatan.

 

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan dosis dan cara penggunaan. Konsultasi dengan dokter atau apoteker juga diperlukan, terutama bagi mereka yang sedang menjalani pengobatan rutin.

 

Dalam pemaparannya, sambiloto tidak dianjurkan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak. Penggunaannya juga memerlukan perhatian khusus karena berpotensi memengaruhi tekanan darah, kadar gula darah, dan pembekuan darah, terutama pada orang yang mengonsumsi obat hipertensi, diabetes, atau pengencer darah.

 

Melalui edukasi tersebut, peserta diajak memahami bahwa pemanfaatan tanaman obat harus didasarkan pada pengetahuan yang memadai. Dengan begitu, potensi tanaman lokal dapat dikembangkan tanpa mengabaikan keselamatan masyarakat.

 

‘Aisyiyah Dorong Budidaya TOGA di Pekarangan Rumah

 

Kegiatan diawali dengan sambutan Bendahara PCM Gatak, Sugeng, yang hadir mewakili Ketua PCM Gatak. Ia didampingi Drs. Hj. Salim dari Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PCM Gatak.

 

Sugeng mengapresiasi kontribusi UMS dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui program pengabdian tersebut. Ia berharap pelatihan tidak hanya memperluas pemahaman tentang tanaman obat, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi keluarga.

 

“Semoga pelatihan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tanaman obat sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi keluarga melalui pemanfaatan potensi tanaman di lingkungan sekitar,” ujarnya.

 

Sementara itu, Ketua PCA Gatak, Endang Mulyani, S.Pd., berharap kolaborasi antara UMS dan ‘Aisyiyah dapat terus berlanjut. Ia mengajak para kader ‘Aisyiyah membudidayakan tanaman obat keluarga, seperti sambiloto, jahe, kunyit, dan kencur, di pekarangan rumah masing-masing.

 

Menurut Endang, budidaya tanaman obat perlu diimbangi pengetahuan mengenai pengolahan dan pemanfaatannya. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan mampu mengelola potensi tanaman lokal sekaligus membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga.

 

Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim pengabdian UMS menyerahkan bibit sambiloto secara simbolis kepada perwakilan pimpinan cabang untuk dibudidayakan di lingkungan PCM dan PCA Gatak.

 

Penyerahan bibit tersebut diharapkan mendorong peserta mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan sekaligus memperluas budidaya tanaman obat di masyarakat.

 

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan teknis dan demonstrasi pembuatan racikan minuman herbal berbahan sambiloto. Peserta juga mengikuti diskusi interaktif bersama Sanower Hossain untuk memperdalam pemahaman mengenai budidaya, pengolahan, dan pemanfaatan tanaman tersebut.

 

Kolaborasi DRPPS UMS bersama PCM dan PCA Gatak ini diharapkan memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan keterampilan masyarakat, mengoptimalkan sumber daya lokal, serta memperkuat potensi ekonomi keluarga.

 

Melalui program tersebut, UMS menegaskan komitmennya memperluas dampak tridarma perguruan tinggi melalui pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan Persyarikatan Muhammadiyah, sekaligus mendorong pemanfaatan tanaman obat secara bijak, berbasis pengetahuan, dan mengutamakan keselamatan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!