Mengapa Kita Tiba-Tiba Ingat Seseorang? Ini Penjelasan Psikolog

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Pernah tiba-tiba teringat seseorang, lalu tak lama kemudian orang itu menghubungi atau muncul di hadapan kita? Sebagian orang menganggap kejadian tersebut sebagai pertanda bahwa orang yang diingat juga sedang memikirkan dirinya. Namun, dari perspektif psikologi, anggapan itu belum didukung bukti ilmiah yang memadai.

 

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Audi Ahmad Rikardi, S.Psi., M.A., menjelaskan bahwa munculnya pikiran tentang seseorang tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara pikiran dua individu.

 

“Kalau secara ilmiah, belum ada buktinya ketika kita memikirkan seseorang, orang tersebut juga memikirkan kita,” jelas Audi, Jumat (16/10/2026).

 

Menurutnya, pikiran merupakan bagian dari proses internal individu. Meskipun dua orang memiliki interaksi sosial dan ikatan emosional yang kuat, kondisi tersebut tidak otomatis membuat mereka memikirkan satu sama lain pada waktu bersamaan.

 

Ketika seseorang teringat orang lain, kemudian orang tersebut tiba-tiba menghubungi atau muncul di hadapannya, kejadian itu lebih mungkin merupakan kebetulan daripada bukti adanya hubungan psikologis secara langsung.

 

Intuisi Bukan Bukti, Otak Cenderung Mencari Pola

 

Audi menjelaskan, feeling, intuisi, atau firasat kerap digunakan seseorang untuk memahami situasi yang belum memiliki kepastian. Dalam psikologi, intuisi merupakan salah satu cara manusia memproses informasi dan mengambil keputusan.

 

Ia mengaitkan hal tersebut dengan konsep dua sistem berpikir, yakni Sistem 1 dan Sistem 2. Sistem 1 bekerja secara cepat, otomatis, dan banyak dipengaruhi respons emosional. Sementara itu, Sistem 2 bekerja lebih lambat serta melibatkan analisis, penalaran, dan pertimbangan yang lebih mendalam.

 

“Intuisi ini masuk ke sistem satu karena cepat, emosional, dan juga dangkal,” terangnya.

 

Karena bekerja secara cepat, intuisi dapat membantu seseorang merespons situasi. Namun, intuisi tidak selalu benar dan tidak dapat secara otomatis dijadikan bukti bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi.

 

Kecenderungan manusia menghubungkan berbagai kejadian juga berkaitan dengan kemampuan otak mengenali pola. Dalam perspektif psikologi evolusioner, kemampuan tersebut berkembang sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup.

 

“Dari zaman dulu kita mencari pola itu tujuannya untuk survival,” jelasnya.

 

Audi mencontohkan, ketika seseorang melihat sesuatu bergerak di balik semak-semak, pengalaman sebelumnya dapat membuatnya mengantisipasi kemungkinan adanya bahaya. Kemampuan mengenali pola membantu manusia mengambil tindakan untuk melindungi diri.

 

Namun, mekanisme yang sama juga dapat membuat seseorang menghubungkan dua kejadian yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sebab-akibat.

 

Dalam psikologi, kecenderungan tersebut dikenal sebagai illusory correlation, yakni persepsi bahwa dua hal saling berkaitan meskipun hubungan tersebut belum tentu benar-benar ada.

 

Confirmation Bias Membuat Firasat Terasa Benar

 

Kecenderungan mencari pola dapat semakin kuat ketika seseorang berada dalam situasi yang tidak pasti, termasuk saat menghadapi hubungan sosial yang ambigu.

 

Untuk memperoleh kepastian, seseorang mungkin menghubungkan kejadian saat ini dengan pengalaman sebelumnya. Dalam proses tersebut, confirmation bias atau bias konfirmasi dapat memengaruhi cara seseorang menafsirkan informasi.

 

Bias konfirmasi merupakan kecenderungan untuk lebih memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki, sementara informasi yang bertentangan dengan keyakinan tersebut cenderung diabaikan.

 

“Pola-pola yang baru muncul ini kemudian kita tidak ambil. Kita hanya mengambil pola-pola yang sudah kita pelajari dan yakini. Nah, itu masuk ke dalam confirmation bias,” ungkap Audi.

 

Sebagai contoh, seseorang percaya bahwa tiba-tiba teringat orang lain merupakan tanda bahwa orang tersebut juga sedang memikirkannya. Ketika orang itu kemudian mengirim pesan, kejadian tersebut akan terasa sebagai pembenaran atas keyakinannya.

 

Sebaliknya, berbagai kesempatan ketika ia teringat seseorang tetapi tidak menerima pesan atau kabar mungkin tidak terlalu diperhatikan.

 

Akibatnya, kebetulan yang sesuai dengan keyakinan lebih mudah diingat dan dapat memperkuat kepercayaan bahwa kedua kejadian tersebut saling berhubungan.

 

Budaya dan Media Sosial Membentuk Cara Memaknai Firasat

 

Selain proses kognitif, cara seseorang memahami intuisi dan firasat juga dipengaruhi lingkungan budaya.

 

Audi mencontohkan sejumlah kepercayaan yang berkembang di masyarakat, seperti telinga terasa panas sebagai tanda sedang dibicarakan orang lain atau kupu-kupu masuk rumah sebagai pertanda akan terjadi sesuatu.

 

Kepercayaan tersebut dapat menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan dan digunakan masyarakat untuk memberikan makna terhadap suatu pengalaman.

 

“Cara kita memaknai sesuatu itu bisa juga tergantung dari budaya yang sudah turun-temurun, sudah dilestarikan,” tuturnya.

 

Perbedaan latar belakang budaya juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami hubungan sosial. Masyarakat dengan budaya yang lebih kolektif, misalnya, dapat memiliki cara pandang berbeda dari masyarakat yang lebih individualistis.

 

Di era digital, media sosial, film, dan lagu turut membentuk persepsi masyarakat tentang perasaan dan hubungan antarmanusia.

 

Audi mengingatkan, terutama kepada anak muda, agar tidak menjadikan konten digital sebagai satu-satunya acuan untuk memahami realitas hubungan sosial. Apa yang ditampilkan di media sering kali hanya menggambarkan sebagian kecil dari kehidupan yang sebenarnya jauh lebih kompleks.

 

“Ketika kita melihat sesuatu, itu perlu melihat apa adanya juga, yang terjadi di kenyataan seperti apa,” ujarnya.

 

Karena itu, memahami hubungan dengan orang lain perlu mempertimbangkan interaksi nyata dan konteks yang menyertainya, bukan semata-mata berdasarkan potongan cerita atau gambaran romantis di layar.

 

Ikatan Emosional Membuat Seseorang Mudah Diingat

 

Meski tidak ada bukti ilmiah yang memadai bahwa memikirkan seseorang berarti orang tersebut juga sedang memikirkan kita, ikatan emosional memang dapat membuat seseorang lebih sering hadir dalam pikiran.

 

Audi menjelaskan, relasi sosial merupakan salah satu sumber pengalaman emosional manusia. Semakin kuat ikatan emosional dengan seseorang, semakin banyak pula kenangan, pengalaman, dan asosiasi yang terbentuk berkaitan dengan orang tersebut.

 

Itulah sebabnya seseorang bisa tiba-tiba teringat teman, pasangan, anggota keluarga, atau orang dari masa lalu ketika menemukan sesuatu yang memiliki kaitan dengan mereka.

 

Pemicu tersebut dapat berupa lagu, film, barang, tempat, percakapan, maupun pengalaman tertentu yang pernah dibagikan bersama.

 

“Ketika muncul potongan-potongan yang berkaitan dengan lagu, film, ataupun hal lain yang berkaitan dengan orang ini, nah mungkin kita jadi teringat,” pungkasnya.

 

Dengan demikian, tiba-tiba memikirkan seseorang lebih tepat dipahami sebagai bagian dari proses psikologis yang melibatkan memori, asosiasi, pengalaman emosional, dan cara otak mengolah informasi.

 

Merasa terhubung dengan seseorang tidak selalu berarti pikiran kalian sedang bertemu pada waktu yang sama. Untuk memahami hubungan sosial secara lebih objektif, intuisi dapat menjadi bahan pertimbangan, tetapi tetap perlu dibedakan dari fakta dan didukung oleh komunikasi serta interaksi nyata. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!