28.4 C
Jakarta

IMM FAI UMS Bedah Etika Bernegara dan Kemaslahatan Umat

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS) menggelar Sekolah Tarjih 2026 untuk memperkuat pemahaman kader tentang etika bernegara, kebijakan publik, dan kemaslahatan umat dalam perspektif Muhammadiyah.

 

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu–Ahad (10–11/10/2026) tersebut mengangkat tema “Antara Kebijakan Negara dan Kemaslahatan Umat: Bagaimana Tarjih Muhammadiyah Memandangnya?”. Forum ini menjadi ruang pembelajaran bagi kader IMM untuk mengkaji hubungan agama dan negara melalui pendekatan manhaj Muhammadiyah.

 

Ketua Panitia Sekolah Tarjih 2026, Muhammad Al Fathin, mengatakan materi kegiatan mencakup etika bernegara, kebijakan negara dalam perspektif manhaj Muhammadiyah, serta kajian maqashid syariah atau tujuan-tujuan utama syariat Islam.

 

Menurutnya, pemahaman tersebut penting agar kader mampu menghubungkan prinsip-prinsip keislaman dengan persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

 

“Sekolah Tarjih 2026 ini membahas bagaimana etika bernegara, bagaimana kebijakan negara dari sudut manhaj Muhammadiyah, etika bernegara dan tinjauan dari maqashid syariah, yang di mana bisa kita terapkan di kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).

 

Ia berharap, pembelajaran tersebut tidak berhenti pada pemahaman teoretis, tetapi juga mendorong peserta menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, kader dapat berkontribusi membangun kehidupan sosial yang berkeadaban, adil, dan mengutamakan kemaslahatan bersama.

 

IMM FAI UMS Dorong Kesadaran Politik Kritis

 

Ketua Umum IMM FAI UMS, Handito Putro, menekankan pentingnya menumbuhkan kesadaran politik di tengah masyarakat. Ia menilai, perspektif Muhammadiyah dapat menjadi salah satu landasan bagi kader untuk memahami dinamika politik secara kritis dan bijaksana.

 

Kesadaran politik, menurutnya, diperlukan agar masyarakat tidak sekadar mengikuti perkembangan politik, tetapi juga mampu menilai kebijakan dengan mempertimbangkan kepentingan umat dan bangsa.

 

“Sekarang ini kita perlu menanamkan kesadaran politik, dengan memandang dari perspektif Muhammadiyah, agar kita bisa memahami dinamika politik secara kritis dan bijaksana,” ungkapnya.

 

Melalui pembahasan tersebut, Sekolah Tarjih menjadi sarana bagi kader untuk memperluas wawasan keislaman sekaligus membangun sikap kritis dalam merespons kebijakan negara. Pendekatan ini diharapkan membantu kader menempatkan kepentingan publik dan nilai-nilai keadilan sebagai pertimbangan dalam menyikapi persoalan kebangsaan.

 

FGD hingga Video Dakwah Asah Kemampuan Kader

 

Sekolah Tarjih 2026 tidak hanya diisi dengan penyampaian materi. Panitia juga menghadirkan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan peserta dalam diskusi dan debat untuk mengasah kemampuan menyampaikan argumen serta menanggapi persoalan dari berbagai sudut pandang.

 

Selain itu, peserta mengikuti kegiatan penyetoran ayat-ayat perkaderan dan pembuatan video dakwah dengan beragam tema. Aktivitas tersebut dirancang untuk memperkuat pemahaman keislaman sekaligus mendorong kreativitas kader dalam menyampaikan pesan dakwah kepada masyarakat.

 

Salah satu peserta, Inast Nailus Syahidah, menilai kegiatan tersebut memberikan banyak wawasan dan membantunya memahami ajaran agama secara lebih mendalam.

 

Baginya, Sekolah Tarjih bukan sekadar ruang untuk menghafal materi keagamaan, melainkan kesempatan untuk memahami dan menerapkan ajaran Islam secara bijaksana sesuai konteks kehidupan.

 

“Menurutku, Sekolah Tarjih adalah tempat yang sangat bermanfaat untuk memperdalam pemahaman agama, bukan sekadar menghafal, tetapi memahami dengan bijak,” tuturnya.

 

Ia mengungkapkan, materi etika bernegara memberinya pemahaman mengenai cara menjadi warga negara yang baik tanpa meninggalkan prinsip-prinsip agama. Sementara itu, materi ushul fikih membantunya memahami dasar penetapan hukum Islam sehingga lebih berhati-hati dalam menyikapi pendapat yang belum jelas sumbernya.

 

Materi etika dan regulasi hukum juga memperkuat kesadarannya tentang pentingnya menegakkan hukum secara adil, cermat, dan tidak merugikan pihak lain.

 

“Semoga ilmu yang aku dapat bisa aku amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

 

Melalui Sekolah Tarjih 2026, IMM Muhammad Abduh FAI UMS berupaya membentuk kader yang memiliki pemahaman keislaman mendalam, kesadaran politik yang kritis, serta kemampuan menyikapi kebijakan negara berdasarkan nilai-nilai Islam dan manhaj Muhammadiyah.

 

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran kader dalam menghadirkan dakwah yang mencerahkan serta mendorong terwujudnya kemaslahatan bagi umat dan bangsa. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!