27 C
Jakarta

Kurikulum PJOK Era Digital Tak Cukup Berbasis Dokumen

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) menuntut dunia pendidikan melakukan perubahan dalam pengembangan kurikulum. Teknologi tidak lagi sekadar alat bantu pembelajaran, tetapi perlu diintegrasikan secara tepat dengan pedagogi dan etika.

 

Hal tersebut disampaikan dosen Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum Pendidikan Jasmani Magister Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr Pungki Indarto, dalam penyampaian materi, Jumat (2/10/2026).

 

Pungki menjelaskan, teknologi modern, termasuk AI, memiliki karakter terbuka dan mampu memberikan respons cepat berdasarkan perintah pengguna. Kemampuan tersebut membuka peluang besar bagi pembelajaran, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan baru.

 

Menurut dia, pemanfaatan teknologi harus tetap menempatkan manusia sebagai pengendali.

 

“Teknologi harus kita kuasai, bukan justru kita yang dikuasai teknologi,” menjadi salah satu prinsip penting dalam pengelolaan teknologi pembelajaran.

 

Ia menekankan, aspek etika menjadi bagian penting dalam penggunaan teknologi, terutama AI. Dalam konteks akademik, misalnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mencari ide, mengolah informasi, atau mendukung proses belajar.

 

Namun, peserta didik tetap perlu menjalankan proses berpikir dan menghasilkan karya secara mandiri.

 

“AI jangan sampai menggantikan seluruh proses berpikir dan karya asli peserta didik,” demikian pokok penjelasan Pungki dalam materi tersebut.

 

Pedagogi Berubah di Era Digital

 

Pungki juga mengaitkan perkembangan teknologi dengan perubahan pendekatan pedagogi. Menurutnya, pembelajaran perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan lingkungan belajar.

 

Ia menjelaskan tiga pendekatan yang relevan, yakni pedagogi untuk pembelajaran anak, andragogi yang berkaitan dengan pembelajaran orang dewasa, serta cybergogi yang mengintegrasikan pembelajaran dengan teknologi digital.

 

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran tidak dapat terus bergantung pada pola konvensional.

 

Dalam konteks pendidikan jasmani, perubahan itu juga berimplikasi pada cara guru merancang pengalaman belajar. Teknologi dapat digunakan untuk menyediakan sumber belajar, mengakses data, mendukung evaluasi, hingga membantu peserta didik memahami materi secara lebih mandiri.

 

Kurikulum Tak Lagi Sekadar Dokumen

 

Pungki menilai, pengembangan kurikulum di era digital perlu bergerak melampaui pemahaman bahwa kurikulum hanya berupa dokumen tertulis.

 

Kurikulum harus mampu mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran. Implementasinya dapat berupa penggunaan e-learning, website sekolah, sumber belajar digital, mesin pencari, hingga berbagai perangkat berbasis data.

 

Integrasi tersebut sekaligus membutuhkan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Sebab, keberadaan teknologi tidak otomatis membuat proses pembelajaran menjadi lebih baik jika pendidik dan peserta didik belum memiliki kemampuan mengelolanya.

 

Karena itu, literasi teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan pedagogis dan etika.

 

Dorong Siswa Mandiri Mengelola Data

 

Dalam pembelajaran modern, peserta didik juga didorong lebih aktif mencari dan mengelola informasi. Mereka tidak hanya menerima pengetahuan dari guru, tetapi belajar menemukan data, mengolahnya, kemudian menggunakannya untuk memecahkan persoalan.

 

Pendekatan tersebut dinilai dapat memperkuat kemandirian, kreativitas, dan kemampuan problem solving peserta didik.

 

Bagi pendidikan jasmani, prinsip tersebut dapat menjadi bagian dari pengembangan kurikulum yang lebih adaptif terhadap perubahan teknologi.

 

Pada akhirnya, teknologi diposisikan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti peran manusia. Guru tetap memiliki peran penting dalam merancang pengalaman belajar, membangun karakter, memberikan arahan, serta memastikan teknologi digunakan secara bertanggung jawab.

 

Dengan demikian, tantangan pengembangan kurikulum pendidikan jasmani di era digital bukan sekadar menghadirkan teknologi, melainkan memastikan teknologi, pedagogi, dan etika berjalan secara seimbang. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!